Zonasi Taman Nasional Bukit Duabelas

You are here

 

Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan kawasan Pelestarian Alam yang ditunjuk dengan salah satu pertimbangan utama sebagai tempat kehidupan Orang Rimba/SAD. Keberadaan Orang Rimba/SAD menjadi entitas penting dalam pengelolaan kawasan, terutama yang berkaitan dengan pengaturan ruang atau zonasi. Pada tahun 2018, muncul keberatan dari Orang Rimba/SAD Makekal Hulu yang menganggap zonasi TNBD belum mengakomodir ruang adat mereka, salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran komunitas tersebut terhadap perubahan pola hidup dan naiknya populasi OR yang mengancam eksistensi mereka sebagai komunitas adat. Pengakuan terhadap ruang adat merupakan upaya mereka untuk mempertahankan adat dan budaya OR yang dianggap sudah mulai luntur. Disisi lain terdapat aktivitas wisata pada beberapa zona yang tidak sesuai peruntukannya, dan adanya keterlanjuran perladangan berupa kebun-kebun karet masyarakat desa yang saat ini dialokasikan pada zona khusus. Faktor-faktor tersebut mendorong perlunya peninjauan kembali zonasi yang saat ini digunakan sebagai dasar pengelolaan atau revisi zonasi TNBD. Revisi Zonasi TNBD merupakan bagian dari agenda bersama yang memadukan aturan adat Orang Rimba/SAD dan aturan negara. Keseluruhan proses dibangun secara partisipatif melibatkan 13 Temenggung, dan 4 LSM Pendamping, dan unsur pemerintah setempat. Mulai dari tahapan perencanaan, sensus Orang Rimba/SAD, survey lapangan, perpaduan ruang adat dan ruang zona.

Setelah melalui proses penyusunan yang panjang pada tahun 2018 hingga 2019 diresmikan lah SK Zonasi/tata ruang adat BTNBD yang terbaru dengan Nomor : SK.191/KSDAE/PIKA/KSA.0/5/2019 Tentang Zonasi/Tata Ruang Adat Pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas, Kabupaten Tebo, Batanghari dan Sarolangun Provinsi Jambi. Berikut dijelaskan rincian Zona atau Ruang adat yang telah dipadukan antara aturan Negara dan Aturan Adat ;

  1. Zona Inti/Tali Bukit (Jungut/Tanoh Teperuang) : Punggung-punggung bukit yang berada antara sungai Batanghari dan Sungai Tembesi, mulai dari Bukit Penonton, Bukit Pal, Bukit Mati, Bukit Teregang sampai ke Bukit Duabelas yang sama sekali tidak boleh dibuka untuk ladang karena ketinggian dan kecuramannya, mata air dan pencegah longsor. Luas : 8.258,1 Ha
  2. Zona Rimba/Tali Bukit (Jungut/Tanoh Teperuang)/RImbo Bungaron/Tengkuruk Sungoi/Ngengentingon : Merupakan rimba utuh yang berada di hutan atau Kawasan TNBD. Merupakan pematang di Tali Bukit dan daerah yang menyempit diantara sebalik bukit. Biasanya berada di hulu sungai. Luas : 1.804,5 Ha
  3. Zona Pemanfaatan/Wisata alam/Talon/Benuaron : Zona/Ruang adat tempat wisata berupa panorama alam perbukitan, air terjun (Talon), Benuaron (kebun buah Orang Rimba) yang diperuntukan sebagai objek Wisata baik itu Alam maupun Wisata Budaya Orang Rimba. Luas : 645,3 Ha
  4. Zona Tradisional/Tanah Huma/Pehuma'on/Tanah Perano'on/Benuaron : Zona/tata ruang adat tempat Orang Rimba melahirkan dan juga tempat berladang/berkebun Orang Rimba/SAD. Biasanya dipilih dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut, yaitu : Tanahnya datar atau bergelombang, lebih diutamakan yang datar, Kesuburan tanah serta jenis yang cocok ditanam pada daerah tersebut, apabila terdapat daerah terlarang seperti Kleko/Subon/Benteng tidak boleh dijadikan ladang karena akan dapat nasib sial. Luas : 36.810,7
  5. Zona Religi/Tanoh Bedewo/Pasoron/Suban/Tempelanai/Benteng/Bukit Betempo/Kelaka/Tanoh Nenek uyang/Balubalai. Zona/Ruang Adat ini merupakan tempat Orang Rimba melaksankan peribadatan dengan sang pencipta tempat untuk menikah dan pada ruang ini juga tempat Orang Rimba menyimpan mayat anggota keluarga yang telah tiada serta diyakini pula di zona ini terdapat Ruang Adat yang selalu dijaga oleh dewo (dewa) dan ruang adat itu tidak boleh diganggu. Luas 5.113,4 Ha
  6. Zona Rehabilitasi. Yang termasuk zona rehabilitasi adalah kawasan yang terbuka karena kebakaran, perambahan, dan lahan kritis serta bekas kebun masyarakat desa. Luas : 179.7 Ha
  7. Zona Tradisional Masyarakat Lokal. Sebelum dilakukan Revisi Zonasi zona ini awalnya dikenal dengan Zona Khusus tetapi mengalami perubahan pada Zonasi yang terbaru. Zona ini merupakan kebun-kebun karet masyarakat desa yang sudah ada sebelum TN ditunjuk. Luas 1968,6 Ha