Sejarah Kawasan

You are here

Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) seluas 60.500 ha ditunjuk dengan Surat Keputusan Mentri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 285/Kpts-II/2000 Tanggal 23 Agustus 2000 melalui Hutan Produksi Tetap Serengam Hilir (11.400 ha) serta areal penggunaan lain (1.200 ha) dan cagar biosfer Bukit Duabelas (27.200 ha).

Penunjukan Taman Nasional Bukit Duabelas diawali dengan surat Bupati Sarolangun Bangko tanggal 7 Februari 1984 Nomor 522/182/1984 tentang usulan kawasan hutan Bukit Duabelas menjadi Lindungan Dan Cagar Biosfer. Pada saat itu Pemerintah Daerah Kabupaten Sarolangun Bangko berkeinginan untuk mengubah status kawasan hutan Bukit DDuabelas menjadi hutan lindung dan Cagar Biosfer untuk tempat hidup Orang Rimba yang sudah lama tinggal di kawasan tersebut. Usulan tersebut kemudian di tindaklanjuti dengan surat Kepala Sub Balai Perlindungan dan Pelesterian Alam (PPA) Jambi 1984 tentang usulan kawasan hutan Bukit Duabelas menjadi Hutan Lindung dan Cagar Biosfer dan pada Gubernur Jambi melalui surat Nomor : 522.52/863/84 tanggal 25 April 1984 kepada Menteri Kehutanan agar kawasan Bukit Duabelas seluas 28.707 ha diperuntukkan sebagai Cagar Biosfer. Alasan Pemerintah daerah Provinsi Jambi mengdukung usulan ini adalah :

  1. Kawasan tersebut merupakan habitat berbagai satwa liar dilindungi yang semakin terdesak habitatnya.
  2. Kawasan hutan Bukit Duabelas dihuni oleh sekitar 900 jiwa Orang Rimba (Suku Anak Dalam) yang kehidupannya sangat tergantung pada hutan Bukit Duabelas.
  3. Topografi pengunungan Bukit Duabelas agak curam dengan kelerengan 0-20% dan jenis tanah podsolik yang sangat peka terhadap erosi. Pegunungan Bukit Duabelas juga merupakan hulu-hulu suagai yang termasuk dalam sub DAS Batang Tembesi dan Batang Tabir yang bermuara di DDAS Batanghari. Sehinggga untuk kepentingan tata air perlu dipertahankan.
  4. Kehidupan masyarakan Orang Rimba dan kekayaan keanekaragaman hayati merupakan potensi yang bagus bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian kebudayaan

Kemudian LSMKKI Warsi pada tahun 1977 secara aktif melakukan pendampingan dan kajian kehidupan dan penghidupan Orang Rimba di Cagar Biosfer Bukit Duabelas (CBBD), merekomendasikan agar arel kawasan PT Inhutani V dan PT Sumber Hutan lestari ynag terletak di sisi luar bagian utara Cagar Biosfer sebagai kawasan hidup komunitas Orang Rimba, dan ditindak lanjuti oleh Menhut membentuk tim terpadu untuk melakukan kajian mikro di kawasan Bukit Duabelas, dengan rekomendasi agar areal kawasan sisi utara yang berbatasan dengan CBBD dijadikan kawasan lindung.

Rekomendasi tersebut ditindak lanjuti oleh Gubernur Jambi, dengan surat No 525/0496/perek, tanggal 20 januari 2000 dan mengusulkan agar Menhutbun membatalkan percabangan lahan PT Inhutani V dan PT Sumber Hutan Lestari Seluas 38.500 ha, guna diperuntukkan kawasan Cagar Biosfer menjadi 65.300 ha, dan sesuai Sk Menhutbun Nomor : 285/Kpts-II/200 tanggal 23 Agustus 200 tentang Penunjukkan Kawasan TNBD seluas 60.500 ha yang terletak di (3) tiga kabupaten yaitu Sarolangun (6.758 ha), Batanghari (41.259 ha) dan Tebo (12.483 ha), berdasarkan Sk menhutbun  tersebut, Presiden RI pada saat itu KH. Abdurahman Wahid mendeklarasikan TNBD di Jambi pada tanggal 26 Januari 2001. Selanjutnya melalui proses tata batas dan masukan dari berbagai pihak TNBD ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: SK.4196/Menhut-II/2014 tentang penetapan Kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas Seluas 54.780,41 (Lima Puluh Empat Ribu Tujuah Ratus Delapan Puluh dan Empat Puluh Satu Perseratus) Hektar Di Kabupaten Tebo, Kabupaten Batanghari Dan Kebupaten Sarolangun, Provinsi Jambi pada tanggal 10 Juni 2014.