Sekolah Rimba Terap Serengam

You are here

Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) dengan luas 54.780,41 ha memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan Taman Nasional lainnya. Selain berfungsi untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistem, TNBD juga menjadi sebagai ruang hidup dan penghidupan bagi Orang Rimba/Suku Anak Dalam (SAD).

Suku Anak Dalam yang tinggal di Sungai Terap dan Serengam SPTN Wilayah I Batang Hari berjumlah 4 Temenggung, 147 KK dan 515 jiwa (sensus SAD tahun 2018 tertuang dalam buku Demografi Orang Rimba, TNBD). Komunitas ini sebagian besar tinggal di dalam kawasan, jika pun tinggal diluar kawasan mereka masih menggantungkan hidupnya pada sumberdaya alam di TNBD. SAD hidup secara nomaden atau berpindah pindah bergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Kehidupan di alam dan jauh dari kehidupan perkotaan atau masyarakat pada umumnya membuat mereka tidak mengenal peradaban yang ada diluar hutan, tidak terkecuali pendidikan. Bagi Orang SAD, pendidikan merupakan hal yang asing. Jika seseorang mengenyam pendidikan maka akan dikucilkan oleh anggota kelompok SAD sekitarnya karena akan menjadi ancaman untuk kelompok mereka. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman dan sosialisasi dari berbagai pihak, jumlah orang rimba yang sudah mengenyam pendidikan mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mengingat pendidikan adalah sesuatu yang asing bagi mereka, membaca dan menulis pun bukanlah hal yang lazim bagi mereka. Untuk saat ini, masalah pendidikan belum diperoleh secara optimal oleh Suku Anak Dalam yang ada di wilayah Terap dan Serengam.

Pada tanggal 1 Juli 2019 Balai Taman Nasional Bukit Duabelas mulai melakukan pendirian sekolah rimba yang dibantu oleh pihak TNI dalam menyediakan tempat untuk sekolah rimba wilayah Terap Serengam, hal ini dilatar belakangi oleh kondisi anak-anak SAD di wilayah Terap yang belum mengenyam pendidikan karena lokasi sekolah yang cukup jauh dari pemukiman Suku Anak Dalam Saat ini. Saat ini Sekolah Rimba Terap Serengam memiliki 20 orang siswa yang berasal dari 4 kelompok temenggung yang ada di wilayah Terap yaitu Temenggung Nyenong, Nyurau, Ngamal, dan Girang. Sekolah Rimba Terap Serengam sudah memiliki dua orang guru yang berasal dari Desa Baru salah satu desa penyangga Kawasan Taman Nasional, untuk saat ini waktu belajar di Sekolah Rimba terap serengam sebanyak 5 hari yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat. Proses pembelajaran dapat berlangsung di ruang kelas maupun di alam terbuka. Mereka diajarkan hal-hal dasar, yaitu membaca, menulis, dan berhitung selain itu juga diarahkan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Adanya sekolah rimba terap serengam binaan Taman Nasional Bukit Duabelas ini diharapkan dapat membantu meningkatkan taraf hidup Orang Rimba/Suku Anak Dalam kedepannya dengan tidak merubah adat istiadat mereka. Besar harapan anak-anak ini nantinya dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah formal.

.

.

.

Oleh : Muhammad  Rizqon, S.Hut (Penyuluh Pertama Balai Taman Nasional Bukit Duabelas)