Role Model Pengelolaan Ekowisata Bukit Bogor Berbasis Masyarakat dan Pengelolaan Zona Tradisional pada Kelompok Tumenggung Bepayung

You are here

Taman Nasional Bukit Duabelas yang ditunjuk dengan salah satu tujuan khusus sebagai ruang hidup dan penghidupan Orang Rimba, memiliki tipe ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dengan topografi datar hingga perbukitan. Kawasan ini sebelumnya merupakan eks cagar Biosfer dan hutan produksi, serta secara umum merupakan wilayah jelajah penghidupan Orang Rimba, sehingga potensi wisata alam yang dapat dikembangkan sangat terbatas pada lokasi-lokasi tertentu. Sebagaimana Bukit Bogor yang berada di wilayah kerja Resort Air Hitam I, lokasi ini mulai banyak dikunjungi setelah terjadi kebakaran pada tahun 2015. Adanya suksesi secara alami serta lokasinya yang berada pada ketinggian 176 Mdpl menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Bukit Bogor saat ini merupakan salah satu lokasi di Taman Nasional Bukit Duabelas dengan potensi ekowisata yang memiliki prospek cukup menjanjikan untuk dikembangkan. Lokasinya yang secara aksesibilitas sangat terjangkau melalui Desa Bukit Suban, menjadi salah satu factor pendorong lokasi ini menjadi daya tarik wisata bagi masyarakat sekitar. Namun disisi lain akses yang sangat dekat dengan desa penyangga dan adanya pemukiman Orang Rimba di sebelah barat Bukit Bogor yang dibangun Pemerintah Daerah Provinsi Jambi dan Pemerintah Kabupaten Sarolangun dalam kurun waktu 2013 s.d 2015, menjadi ancaman nyata bagi kelestarian hutan di Bukit Bogor. Terjadi alih fungsi lahan yang cukup massif pada lereng sebelah barat bukit Bogor menjadi ladang – ladang sawit, sedangkan pada lereng sebelah selatan lokasi ini sudah dikelilingi kebun sawit masyarakat desa. Perlu adanya penataan yang tepat baik dari sisi perlindungan, pemanfaatan, dan pengawetan untuk mempertahankan kelestarian Bukit Bogor sebagai salah satu destinasi wisata di Taman Nasional Bukit Duabelas dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

Disisi lain, tujuan khusus penunjukan Taman Nasional Bukit Duabelas adalah menjadi ruang hidup dan penghidupan Orang Rimba, sehingga pemberdayaan Orang Rimba menjadi embanan utama dalam pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas. Dinamika populasi dan perkembangan social budaya Orang Rimba saat ini menjadi perhatian khusus bagi Balai Taman Nasional Bukit Duabelas, sebagaimana yang disampaikan oleh Sasmita (2009) yang menyatakan bahwa terjadi perubahan system perladangan dan social budaya Orang Rimba yang berpotensi untuk mengeksploitasi sumberdaya alam karena lahan perladangan terus berkurang, masyarakat bertambah, penemuan dan pengetahuan baru serta pemenuhan kebutuhan hidup. Perubahan tersebut memicu aktivitas pemanfaatan kawasan yang tidak lagi memperhatikan kearifan tradisionalnya, pembukaan lahan hutan menjadi ladang sawit semakin massif dilakukan karena meniru perilaku masyarakat desa. Kurangnya pendidikan, dan ketrampilan membuat Orang Rimba kalah bersaing dengan masyarakat desa. sehingga diperlukan pemberdayaan secara komprehensif khususnya di bidang ekonomi dan pendidikan untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Upaya ini diharapkan dapat menekan laju perladangan yang tidak sesuai dengan kearifan tradisional Orang Rimba.

Melihat dinamika perkembangan tersebut dan selaras dengan arahan Direktur Jenderal KSDAE yang pada tahun 2017 yang mewajibkan kepada seluruh UPT untuk melaksanakan satu paket kegiatan yang disebut dengan Role Model sebagai salah satu langkah dalam antisipasi atau pencegahan terhadap terhadap kerusakan dan/atau gangguan di dalam kawasan maupun daerah penyangga dan pengembangan potensinya, Oleh karena pada akhir Agustus 2017, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas mengajukan Rencana Role Model Pengelolaan Ekowisata Bukit Bogor Berbasis Masyarakat dan Pengembangan Zona Tradisional pada Kelompok Tumenggung Bepayung  di Taman Nasional Bukit Duabelas. Adapun tujuan dari pelaksanaan  Role Model Pengelolaan Ekowisata Bukit Bogor Berbasis Masyarakat dan Pengembangan Zona Tradisional pada Kelompok Tumenggung Bepayung di Taman Nasional Bukit Duabelas adalah terwujudnya

  1. Pengelolaan ekowisata Bukit Bogor secara terpadu dan berdaya saing, dengan pengembangan secara berkelanjutan.
  2. Pengembangan Zona Tradisional pada Kelompok Tumenggung Bepayung secara terpadu, komprehensif, dan berkelanjutan.

Sedangkan  sasaran yang hendak dicapai dalam mewujudkan tujuan tersebut yaitu :

  1. Terwujudnya pengelolaan ekowisata Bukit Bogor yang berbasis sumber daya lokal;
  2. Terwujudnya pemberdayaan ekonomi di Wilayah Kelompok Tumenggung Bepayung;
  3. Terwujudnya peningkatan mutu pendidikan dan kualitas kesehatan KAT/SAD di Wilayah Kelompok Tumenggung Bepayung;
  4. Terwujudnya integrasi ekonomi ekowisata Bukit Bogor dengan masyarakat sekitar kawasan, baik masyarakat desa penyangga maupun Orang Rimba.
  5. Terwujudnya keutuhan dan kelestarian kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas khususnya areal Bukit Bogor dan Sungai Kuning.

Dengan adanya role model terdapat 2 (dua) kondisi yang diinginkan yang pertama adalah terhadap kawasan. Dengan adanya role model pengelolaan ekowisata Bukit Bogor berbasis masyarakat, diharapkan dapat mendorong meningkatnya perbaikan kondisi hutan yang berada di Bukit Bogor sehingga kelestarian sumberdaya alam dan sumberdaya genetik kawasan terus terjaga keberadaannya. Hal ini dilakukan melalui upaya perlindungan dengan melibatkan masyarakat desa penyangga dan komunitas Orang Rimba, untuk mempertahankan keutuhan kawasan secara partisipatif, serta melakukan restorasi terhadap kawasan yang terdampak kebakaran hutan pada tahun 2015 dan aktifitas pembukaan ladang yang dilakukan oleh Orang Rimba. Selain kegiatan di atas, pada tahun 2017 telah direncanakan pelaksanaan kegiatan pembangunan areal sumberdaya genetik (ASDG) Tembesu di Bukit Bogor, bekerjasama dengan Balai Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Batanghari diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumberdaya genetik di dalam kawasan. Sedangkan untuk pengelolaan zona tradisional di Kel. Tumenggung Bepayung, diharapkan dapat mendorong meningkatnya perbaikan kondisi hutan yang berada di Sungai Kuning, serta Orang Rimba tidak meninggalkan kearifan local mereka dalam mengelola hutan. 

Kondisi yang kedua adalah terhadap masyarakat, Pengelolaan ekowisata Bukit Bogor tentunya diharapkan berdampak terhadap meningkatnya kesejahteraan ekonomi masyarakat desa dan Orang Rimba. Saat ini Bukit Bogor sebagai salah satu destinasi wisata Taman Nasional Bukit Dabelas belum terkelola secara optimal oleh Balai Taman Nasional Bukit Duabelas.  Dengan adanya rencana role model pengelolaan ekowisata Bukit Bogor berbasis masyarakat, diharapkan adanya partisipasi secara aktif dari masyarakat baik dari sisi sumber daya manusia maupun pendanaan, dengan dinaungi pejanjian kerjasama yang mengikat kedua belah pihak. Partisipasi ini secara lebih jauh diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi yang nyata baik bagi masyarakat desa penyangga maupun Orang Rimba sehingga muncul alternative peningkatan perekonomian selain dari berladang dan manfaat keberadaan Taman Nasional Bukit Duabelas dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, kemudian untuk role model pengelolaan zona tradisional di Kel. Tumenggung Bepayung diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup  Orang Rimba khususnya Tumenggung Bepayung, baik dibidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Role Model Pengelolaan Ekowisata Bukit Bogor Berbasis Masyarakat dan  Pengembangan Zona Tradisional pada Kelompok Tumenggung Bepayung dituangkan dalam satu dokumen rencana yang disahkan langsung oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem pada tahun 2017. Pelaksanaannya telah dimulai tahun 2017 dan diharapkan terealisasi secara keseluruhan pada tahun 2018, tentunya dengan kegiatan-kegiatan lanjutan pada tahun-tahun berikutnya secara berkesinambungan, sehingga tidak selesai pada tahun dicanangkannya saja.

Penulis : Wulandari Mulyani, S. Hut., M.Si (PEH Pertama)