Reintroduksi Anggrek : Tradisi Konservasi di Taman Nasional Bukit Duabelas

You are here

Reintroduksi anggrek ke kawasan merupakan kegiatan rutin tahunan di Balai Taman Nasional Bukit Duabelas. Kegiatan ini telah dimulai sejak tahun 2010 silam dan terus berlanjut sampai saat ini. Anggrek atau menurut bahasa lokal Jambi disebut sakek merupakan salah satu flora yang pengembangannya telah dilakukan secara intensif oleh Balai Taman Nasional Bukit Duabelas. Saat ini terdapat 2 (dua) stasiun pengembangan anggrek di luar kawasan yang dibangun dan dikelola oleh Balai Taman Nasional Bukit Duabelas berlokasi di Resort II.D Muara Tabir (Tebo) dan Resort II.E Air Hitam I (Sarolangun). Tidak kurang dari 40 jenis anggrek yang berasal dari kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas dikembangkan di stasiun ini.

Beberapa jenis anggrek yang terdapat di stasiun pengembangan Resort II.E Air Hitam I antara lain Dendrobium crumenatum, Eria bractescens, Bulbophyllum limbatum, Bulbophyllum plafescens, Thecostele alata, Liparis lacerate, Coelogyne foerstermanii, Cimbidium finlaysonianum, Grammatophyllum speciosum, Bulbophyllum vaginatum, Pomatocalpa spicata, Palaenopsis sumatrana, Phaius tankervillae, Bromheadia finlaysoniana, dan beberapa jenis lainnya. Anggrek-anggrek hasil pengembangan di stasiun inilah yang direintroduksikan ke kawasan sebagai upaya pelestariannya.

Pada tahun 2018 ini, reintroduksi anggrek dilakukan tanggal 17 s.d. 19  Mei lalu dengan jumlah anggrek yang direintroduksi adalah 47 rumpun dari 11 jenis. Jenis-jenis yang direintroduksi yaitu Dendrobium crumenatum, Bulbophyllum plafescens, Cimbidium finlaysonianum, Coelogyne foerstermanii, Liparis lacerata, Bulbophyllum macrantum, Sarcanthus schoterchinii, Bromheadia finlaysoniana, Acriopsis lilifolia, Bulbophyllum  vaginatum dan Flingkingeria. Reintroduksi dilakukan di areal khusus reintroduksi anggrek di wilayah Resort II.E Air Hitam I dengan luasan ± 2 ha. Reintroduksi anggrek dilakukan dengan cara mengikat rumpun anggrek yang telah dipindahkan ke media pakis ke pohon inang dengan menggunakan tali ijuk. Pada anggrek, diberi label yang berisi informasi tentang kode anggrek, jenis anggrek, sumber indukan, blok dan tahun reintroduksi. Label ini akan memudahkan untuk mengevaluasi keberhasilan reintroduksi anggrek pada masa-masa berikutnya. Saat reintroduksi dilakukan, ditemukan beberapa anggrek hasil reintroduksi sebelumnya yang tumbuh dengan baik.

Menilik kondisi kawasan TNBD dengan keberadaan Orang Rimba/Suku Anak Dalam (SAD) di dalamnya, maka reintroduksi anggrek ini sangat penting dilakukan untuk menjaga kelestariannya di kawasan karena bagi Orang Rimba/SAD, anggrek tidak termasuk dalam jenis flora penting seperti sialang, dan tenggeris yang keberadaannya dilindungi adat istiadat. Tidak ada denda yang dikenakan jika ada anggrek yang mati karena pohon inangnya ditumbang. Orang Rimba/SAD juga belum menyadari adanya potensi ekonomi pada anggrek. Anggrek karena tidak hanya sebagai bunga hias yang bernilai ekonomi, beberapa jenis anggrek juga digunakan sebagai bahan baku obat-obatan seperti Flinkingeria. Oleh karena itu, selain dengan reintroduksi, upaya pelestarian anggrek juga harus  dibarengi dengan penyuluhan kepada Orang Rimba/SAD tentang potensi sehingga mau turut serta dalam melestarikannya.