POTENSI POHON SIALANG DI RESORT I.C MAROSEBO ULU 2

You are here

Sumber Foto : Alkori Nugroho ,S. Hut (Polhut Ahli Pertama)

Pohon Sialang merupakan sebutan untuk berbagai jenis pohon yang menjadi “rumah” bagi lebah madu hutan bersarang. Pohon Sialang biasanya adalah pohon yang dapat tumbuh sangat besar dan tingginya melebihi pepohonan lain di sekitarnya dengan bentuk fisik batangnya lurus meninggi. Terdapat beberapa jenis pohon Sialang diantaranya yaitu jenis Kedondong (Spondias sp), Keruing (Dipterocarpus sp), Pulai (Alstonia scholaris),  Kempas (Kompassia malaccensis) dan lain-lain. Pohon Sialang disukai oleh lebah madu Apis dorsata untuk bersarang karena ketinggiannya sehingga mendapat sinar matahari dan terlindung dari berbagai macam ancaman. Pohon Sialang pada habitat Hutan sekunder/primer bersama dengan pepohonan lainnya dan atau berdekatan dengan ladang atau kebun. Hal tersebut dikarenakan lebah-lebah memerlukan nektar dari bunga-bunga sebagai pakannya.

Kegiatan inventarisasi Pohon Sialang pada wilayah kerja Resort I.C Marosebo Ulu II ini berawal dari  informasi Temenggung Celitai  kepada petugas pendamping Suku Anak Dalam (SAD) kelompok Temenggung Celitai pada tahun 2020 lalu, dimana terdapat ± 40 Pohon Sialang potensial di dalam wilayah adatnya. Sehingga  pada tahun ini ditindaklanjuti dengan dilakukannya kegiatan inventarisasi Pohon Sialang pada wilayah Temenggung Celitai.  Tanggal 18-23 Maret 2021 telah dilakukan kegiatan inventarisasi Pohon Sialang di wilayah kerja Resort I.C Marosebo Ulu II khususnya di wilayah adat  Temenggung Celitai daerah Sungai Kejasung besar. Kegiatan ini juga melibatkan perwakilan SAD kelompok Temeggung Celitai dalam proses inventarisasi pohon sialang dilapangan sebagai narasumber. Anggota yang ditunjuk Temenggung Celitai dalam  kegiatan inventarisasi Pohon Sialang adalah Bapak Mata Gunung yang merupakan Debalang Batin dari kelompok SAD Temenggung Celitai. Faktor keterbatasan waktu dan jauhnya jarak sebaran Pohon Sialang tersebut menyebabkan pada kegiatan inventarisasi kali ini baru dapat diinventarisasi sebanyak 28 Pohon Sialang yang terdiri dari calon Pohon Sialang dan Pohon Sialang dengan jenis Keruing (Dipterocarpus sp) dan Kedondong (Spondias sp).

Berdasarkan data inventarisasi sebanyak 23 Pohon Sialang tersebut, diketahui sebanyak 10 Pohon Sialang aktif, 2 Pohon Sialang tidak aktif  dan sisanya  sebanyak 11 pohon belum aktif karena masih merupakan calon Pohon Sialang. Pohon Sialang aktif adalah Pohon Sialang yang setiap tahunnya selalu dihinggapi koloni lebah Apis dorsata untuk bersarang. Pohon Sialang tidak aktif adalah Pohon Sialang yang dulunya pernah bersarang koloni lebah Apis dorsata pada pohon tersebut, namun  1-2 tahun belakang tidak pernah ada lagi lebah bersarang atau pohon sudah ditinggalkan koloni lebah. Sedangkan Pohon Sialang yang belum aktif adalah pohon yang belum pernah dihinggapi koloni lebah untuk bersarang dikarenakan pohon masih belum terlalu besar dan tinggi serta belum dilakukan pembersihan di sekitar lokasi pohon.

Pohon sialang yang “dinaiki lebah” begitu SAD menyebutnya, Berpotensi menghasilkan madu hutan yang jika dimanfaatkan secara maksimal dan dipanen dengan lestari dapat memberikan penghasilan bagi SAD secara berkelanjutan khususnya bagi anggota kelompok Temenggung Celitai yang memiliki pohon sialang. Berdasarkan informasi dari Bapak Mata Gunung, Pohon Sialang merupakan harta bagi SAD sehingga Pohon Sialang  dapat diwariskan dari orang tua kepada  anaknya kelak selama Pohon Sialang itu masih ada.  Beliau juga memberikan informasi bahwa setiap Pohon Sialang yang ada di dalam wilayah adat mereka sudah ada pemiliknya dan proses kepemilikan Pohon Sialang oleh seseorang pun melalui proses yang sudah ditentukan oleh hukum adat sehingga  kepemilikannya diakui sah serta dilindungi dengan hukum adat. Artinya, selain adanya pengakuan kepemilikan yang sah oleh kelompok Orang Rimba, kepada pemiliknya juga berlaku  hukum adat  untuk melindungi Pohon Sialang itu sendiri.

.

.

.

Penulis : Alhan Febrian, S.P

(Polhut Ahli Pertama/ Pendamping Kelompok Temenggung Celitai)