Phallus indusiatus (JAMUR TUDUNG PENGATIN)

You are here

 

Taman nasional Bukit Duabelas sebagai salah satu dari empat taman nasional yang terdapat di Provinsi Jambi, mewakili formasi ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah dan merupakan daerah tangkapan air. Kawasan ini ditetapkan ditunjuk berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 258/Kpts-II/2000 tanggal 23 Agustus 2000 dengan luas kawasan 60.500 hektar, setelah melalui proses tata batas dari berbagai pihak, Taman Nasional Bukit Duabelas ditetapkan melalui surat keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK 4196/Menhut-II/2014 tentang penetapan kawasan hutan Taman Nasional Bukit Duabelas seluas 54.780,41 hektar. Sebagian besar tutupannya adalah hutan sekunder yang beregenerasi secara alami. Perlunya melindungi keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya  tertuang dalam visi dan misi Taman Nasional Bukit Duabelas.

Banyak  jenis flora yang terdapat di dalamnya, salah satunya jamur. Phallus indusiatus, yang banyak dikenal dengan nama “Jamur Tudung Pengantin”dapat ditemukan di Taman Nasional Bukit Duabelas, khususnya pernah ditemukan di Resort Air Hitam I, Desa Bukit Suban SPTN II. Jenis ini merupakan spesies jamur di hutan tropis, dengan nama lainnya Dictyophora indusiat, Dyctiophora callichroa, Hymenophallus indusiatus, Hymenophallus roseus, Phallus rochesterensis. Dalam bahasa Cina, jenis ini dikenal dengan nama Zhu S¯un (Jamur bambu), banyak di gunakan sebagai bahan obat.  Nama Phallus sendiri diambil dari bahasa latin yang artinya mengenakan pakaian dalam. Istilah Phallus di representasikan sebagai simbol apotropaic Italia, “The phallus as an apotropaic symbol in the image and texts of Roman Italy” (Power N, 2006).

Kingdom             : Fungi                 

Division               : Basidiomycota

Class                      : Agaricomycetes

Ordo                     : Phallales                          

Family                 : Phallaceae

Genus                   : Phallus

Species                 : Phallus indusiatus

Jamur tudung pengantin , secara makro-morfologi memiliki bentuk yangciri-ciri:

  1. Uunik sekaligus cantik dengan adanya. Jjaring putih halus yang tumbuh dari bagian atas kepala jamur. Jaring putih tersebut akan tumbuh terurai memanjang dari bawah tudung  hingga bagian pangkal batang jamur, dapat mencapai hingga 12 cm.
  2.  Pada bagian pangkal batang, terdapat miselium (akar) yang tersusun dari hypa. Semakin kebawah, lubang jaring akan semakin mengecil sehingga menjadi salah satu daya tarik jamur tersebut.
  3. Bagian kepala jamur yang berwarna coklat kehijauan berbentuk kerucut seperti lonceng tertutup, beralur, terdapat lubang  putih yang merupakan ujung saluran dari jamur, dan yang berlendir.
  4. Kepala (Topi) jamur ditutupi dengan spora berlendir, berbau khas  yang dapat menarik pollinator, seperti lalat dan serangga lainnya untuk penyerbukan. Menurut Sitinjak (2016) diketahui bahwa jamur ini tidak menyebar melalui udara.

                Phallus indusiatus yang ditemukan ada 2 (dua) jenis yakni tudung putih dan tudung oranye. Jamur ini tumbuh secara individualsoliter, muncul dua kali dalam setahun pada tumpukan daun Kakao yang sudah lapuk (Sitinjak , 2016) dan kayu yang sudah busuk, siklus hidup yang pendek dan tumbuh pada musim hujan. Proses Tahapan pertumbuhan jenis jamur:tersebut dimulai

  1. tahapan Tahapan benih yang  tertutup dan  berbentuk telur (tahapan muda basidiocarp) (Ainsworth et.al 1971) dengan miselium yang tertanam dalam tanah ((Sridhar dan Karun, 2013).
  2. Setelah matang, benih tersebut akan mengalami pembesaran dan muncul tunas, dengan batang berwarna putih, lembut  yang juga tersusun dari jaring putih tebal mirip seperti spons.
  3. Sikus hidup jamur ini berkisar 15-30 hari (Dash PK et.al 2010), termasuk perkembangan vegetatif (pembentukan miselium) hingga tahapan reproduksi (pembentukan basidiocarp)

                Phallus indusiatus dapat tumbuh baik di daerah bersuhu 25-30°C yakni pada daerah lembab, tanah kaya akan bahan organik. Oleh karena itu, pertumbuhan jenis ini sangat dipengaruhi oleh iklim terkait dengan kandungan nitrogen dalam tanah. Kandungan nitrogen yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan miselium atau akar jamur tersebut (Lodge et.al, 2008)..  Jenis  jamur ini tergolong langka dan hanya ditemukan di beberapa negara. Selain di Indonesia, juga tersebar di Amazonia Brazil , Kosta Rika, Amerika Tengah, Kepulauan Karibia, Australia, Afrika, dan Asia (Sitinjak, 2016). Oleh karena itu, jamur ini belum banyak memiliki deskripsi yang luas, terutama di Indonesia.

Sebagai salah satu jenis jamur edible dan herbal, dan banyak dibudi budayakan secara komersil di China (Sridhar dan Karun, 2013) dengan nama produknya Chuanzhen Dictyophora Dried Mushrrom 25g dengan harga $54 atau seharga Rp. 720.000. Setelah dikeringkan jenis ini banyak dipasarkan di Asia untuk bahan masakan. Jenis ini banyak digunakan terutama dalam makanan vegetarian karena kaya akan protein, karbohidrat, dan serat. Phallus indusiatus mengandung enzim, polisakarida, senyawa non-volatil, dan antioksidan. Kandungan polisakarida sebagai penghambat tirosinase dapat berfungsi untuk depigmentasi dan pelembut kulit (Sharma et.al, 2004), Dua glukan hasil dari P. indusiatus dan fucomannogalactan telah dianggap sebagai

imunomodulator (Zhang et.al, 2007), isolasi polisakarida dari P. indusiatus menunjukkan aktivotas antitumor (Ukai et..al,  1983). Berfungsi sebagai anti oksidan  karenan mengandungl polifenol (Mau et.al, 2002), jika diekstrak menggunakan air panas menunjukkan sifat antioksidan (Ooyetayo et.al, 2009), antibakteri, dan antijamur yang baik (Ker et.al, 2007). Jenis jamur ini dapat mengobati banyak gangnguan inflamasi (respon dari suatu organisme terhadap patogen dan alterasi (perubahan komponen) dalam jaringan tubuh, lambung, dan neural (saraf) di China (Ker et.al, 2011) sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat.

Jamur tudung pengantin ini sensitif dengan sentuhan dan tidak bisa bertahan lama. Siang hari jamur ini sudah layu, apalagi jika terlalu lama terpapar terik sinar matahari. Hal ini dibuktikan penulis yakni pada saat pagi hari ditemukan, dilakukan pembersihan sekitar batang jamur dan pada saat sore hari jamur tersebut sudah layu dengan jaring putih yang tidak lagi mengembang dan mulai mengering..

 

Penulis : Jelita H Parapat, S.Hut