Peneliti LIPI: Proyek Jurassic Park di Rinca Tak Bahayakan Habitat Komodo

You are here

KOMPAS.COM

Pemerintah berencana membangun semacam “Jurassic Park” di Pulau Rinca. Tapi, beberapa pihak tak setuju, karena khawatir akan membahayakan habitat komodo yang ada di sana. Apalagi, belakangan muncul foto di sosial media, di mana komodo tampak berhadapan dengan sebuah truk, yang kemudian ditafsirkan sebagai usaha komodo mengadang truk yang akan melakukan pembangunan. Menanggapi hal tersebut, Dr. Evy Arida, peneliti herpetofauna LIPI mengatakan, bahwa habitat komodo di Pulau Rinca sudah terbiasa hidup berdampingan dengan manusia, jika dibandingkan habitat komodo di pulau lain.

“Sejak beberapa generasi, dari zaman neneknya nenek mungkin ya, puluhan tahun lalu manusia sudah masuk dan beranak pinak di Pulau Rinca, jadi sudah sejak saat itu, habitat komodo di sana berinteraksi dan hidup berdampingan dengan manusia,” kata Evy. Sehingga, ketika ada hal baru, bukan hal aneh jika komodo menghampiri untuk mencari tahu.

“ Komodo di Pulau Rinca itu sering tiba-tiba ada di depan café atau komodo yang berukuran lebih kecil ada di café. Selama tidak diganggu ya mereka diam saja. Begitu juga saat di depan truk, kemungkinan komodo sedang mencari tahu hal baru di sekitarnya,” lanjutya. Evy menjelaskan, sebagai hewan berdarah dingin, komodo akan menjulurkan lidahnya untuk mendeteksi apa yang ada di sekitarnya, apakah berbahaya atau tidak. Menurutnya, pembangunan sarana dan prasarana pariwisata di Pulau Rinca memang sudah saatnya dibenahi, untuk melindungi kepentingan hewan dan kepentingan masyarakat di sekitarnya. Selain untuk mencegah komodo liar masuk ke kampung, pembangunan pariwisata di Pulau Rinca juga bisa membuka sumber mata pencaharian baru untuk masyarakat, yang selama ini hanya sebatas nelayan, berburu, dan bercocok tanam, sehingga masih banyak penduduk yang miskin. “Ada bagusnya taman nasional ini dikelola dengan lebih baik, agar masyarakatnya tidak miskin terus-menerus dan meminimalkan konflik antara komodo dan manusia,” kata Evy. “Pagar pembatas antara area komodo dan perkampungan juga perlu diperbaiki ya, karena masih terjadi saat penduduk desa menjemur ikan, komodo datang atau kambing peliharaan dimakan komodo. Khawatirnya nanti salah terkam anak kecil,” imbuhnya.

Selain itu, mengingat komodo hanya ada di satu provinsi di Indonesia, banyak masyarakat dunia yang ingin melihatnya. Menurut Evy, pembangunan Pulau Rinca bisa menjadi pusat informasi dan edukasi mengenalkan keragaman hayati di Indonesia kepada para turis. Di sisi lain sebagai upaya konservasi, turis tidak lagi hanya datang membayar retribusi yang murah, tapi akan ada pemasukan yang signifikan untuk komodo dan penduduk sekitar. “Saya rasa salah satu pertimbangan pemerintah memilih Pulau Rinca juga karena interaksi dengan manusia sudah cukup banyak, dibanding pulau komodo lainnya, jadi mungkin perlu diterapkan sistem pengelolaan yang baru, agar lebih terkontrol, antara memanfaatkan dan juga melindungi,” jelas Evy. Terakhir, ia menekankan, habitat komodo di Pulau Rinca sudah tidak asli, karena sudah dirambah oleh manusia sejak lama. “Bicara soal memertahankan habitat asli komodo, ini sesuatu yang sulit dilakukan. Karena itu berarti harus merelokasi semua penduduk yang ada di sana, dan memastikan hanya komodo yang tinggal di sana. Tapi, itu sepertinya tidak mungkin ya,” pungkasnya.

......................................................

Penulis Bestari Kumala Dewi | Editor Bestari Kumala Dewi

Kompas.com