Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Sekitar Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas

You are here

Taman Nasional Bukit Duabelas  tepat berada pada 1˚44’35’’-2˚03’15’’ dan 102˚48’27’’-102˚48’27’’ dan  dikelilingi oleh  beberapa  desa penyangga. Daerah penyangga adalah suatu wilayah yang berada diantara kawasan konservasi dengan wilayah budidaya atau wilayah pemukiman yang dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu melindungi kawasan konservasi dan sumber daya alam yang ada di dalamnya terhadap gangguan dari kawasan di luarnya, serta untuk melindungi kawasan budidaya atau pemukiman terhadap gangguan yang mungkin terjadi dari kawasan konservasi. Demikian pula halnya dengan masyarakat yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Ada lebih dari 20 desa penyangga dan desa interaksi di sekitar kawasan TNBD dan memanfaatkan sumberdaya alam di kawasan.  

Sayangnya, sampai saat ini, masyarakat di sekitar kawasan TNBD hanya melihat potensi kawasan berupa kayu atau lahan sehingga illegal logging dan perambahan termasuk masalah yang diohadapi di kawasan TNBD. Masyarakat belum memahami bahwa hutan yang tejaga justru mempunyai manfaat dan nilai yang jauh lebih besar dari kayu dan lahan itu sendiri. Selain masyarakat sekitar, kawasan TNBD juga harus memikirkan kelangsungan hidup Suku Anak Dalam/Orang Rimba yang sudah mendiami kawasan TNBD sejak lama dan menjadi salah satu alasan penunjukan kawasan. Peningkatan taraf kehidupan Orang Rimba dengan tetap mempertahankan kelestarian kawasan menjadi fokus utama dari pengelolaan kawasan.  

Dalam menangani masalah tersebut, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas melakukan strategi melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat yang ada disekitar kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas dan Orang Rimba, baik secara integrative, partisipatif, dan komprehensif sehingga diharapkan terwujudnya kemandirian masyarakat untuk memperbaiki kesejahteraan hidupnya melalui partisipasi secara aktif dalam kegiatan pemanfaatan, pengamanan, dan pelestarian hutan. Dengan demikian akan memberi peluang kepada masyarakat untuk mandiri, volume kerusakan hutan berkurang,  keamanan dan keutuhan kawasan Taman Nasional Bukit Dabelas tetap terjaga.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat tersebut dilakukan dengan dua teknik, yakni:

  1. Pembuatan usaha ekonomi

            Pengembangan potensi usaha ekonomi masyarakat menjadi usaha ekonomi mandiri melalui kelompok-kelompok usaha yang akan diberikan bantuan dan dipantau keberlanjutannya. Aturan dan bantuan yang akan diberikan  disepakati bersama antara kelompok masyarakat, desa, dan Balai Taman Nasional Bukit Duabelas. Pada tahapan usaha yang telah berkembang maka akan diberikan bantuan melalui kegiatan peningkatan usaha ekonomi.

 

  1. Peningkatan usaha ekonomi

Pengembangan usaha ekonomi yang sudah ada agar menjadi lebih baik pada aspek kelembagaan, administrasi keuangan, pemasaran, pemodalan, dan ketersediaan bahan baku sehingga dapat memacu peningkatan produktifitas kelompok usaha. Program pemberdayaan masyarakat oleh Balai Taman Nasional Bukit Duabelas sudah dimulai tahun 2009 hingga sekarang.  

Pada Tahun 2017 ini, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas  telah memberikan bantuan ekonomi kepada 10 kelompok tani, 2 diantaranya kelompok Orang Rimba. Bantuan yang telah diberikan tersebut  yakni ;

  • Kelompok Tani Wana Lestari (Bukit Suban), Kelompok Tani Hutan Talang Kayu Bulan (Desa Sungai Jernih), Kelompok Tani Hutan Sake Nek Tuo (Desa Sungai Jernih) dan Kelompok Tani Mutiara Lembah Hijau (Desa Pematang Kabau) berupa bibit Jernang
  • Kelompok Tani Dwi Jaya (Bukit Suban) berupa 1 unit Traktor)
  • Kelompok Tani Tri Karyadi (Bukit Suban) berupa 2 unit tenda pesta
  • Keompok Tani Serumpun (Desa Olak Kemang) berupa 1 unit mesin selipan padi
  • Kelompok Tani Karang Taruna Doho (Pematang Kabau) berupa 10 unit pipa paralon PVC dan 1 unit mesin air Grundfost
  • Kelompok Tani Tanah Cempedak (Desa Jernih) berupa 1 unit hand traktor.

 

Pemberian bantuan jernang kepada kelompok Orang Rimba yaitu Kelompok Tani Hutan Talang Kayu Bulan dan Kelompok Tani Hutan Sake Nek Tuo di Sungai Jernih dengan pertimbangan bahwa jernang merupakan tumbuhan hutan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Selain itu, jernang juga bukan hal asing bagi Orang Rimba karena memanen jernang sudah dilakukan sejak nenek moyangnya. Pemberian bantuan bibit jernang ini diiharapkan dapat meningkatkan hasil produksi jernang Orang Rimba melalui budidaya dan tidak hanya mengandalkan jernang yang tumbuh di alam. Kepemilikan jernang yang ditanam kelompok juga jelas, karena jernang yang ada di alam dimiliki bersama dan bisa dipanen oleh siapa pun yang menemukannya terlebih dahulu.

Sementara bagi masyarakat sekitar kawasan pemberian bantuan ekonomi diharapkan dapat menjadi sumber ekonomi sampingan untuk peningkatan kesejahteraannya sehingga tekanan masyarakat terhadap kawasan terutama akan kebutuhan lahan dapat ditekan.