NAMA DAN FUNGSI RUMAH ORANG RIMBA/SUKU ANAK DALAM

You are here

umah tanoh

1. Umah ditanoh

Umah ditano merupakan rumah yang bangun di dekat ladang dan dibangun tidak terlalu jauh dari aliran sungai. Selain itu, umah ditano juga digunakan pada saat orang rimba melangun. Orang rimba membangun umah ditano karena mereka memiliki kebun sawit atau karet yang tidak jauh dari genah mereka, dan pola hidup mereka yang tidak menetap memudahkan mereka untuk nomaden dan meninggalkan umah tersebut begitu saja, dan akan hancur sendiri oleh alam. Rumah ini ditempati biasanya dalam hitungan bulan, lebih kurang 3-6 bulan. Umah ditano dibangun di dekat aliran anak-anak sungai dan di dekat ladang mereka. Tanaman yang mereka tanam di ladang bisa umbi-umbian, karet,dan sawit. Sebelum umah ditano dibangun,Orang Rimba akan membangun Sesudungon terlebih dahulu hingga umah ditano mereka selesai dibangun.

Umah ditanoh berukuran bermacam-macam, 1x1.5 meter,4x5 meter; tergantung jumlah anggota keluarga mereka. Rumah in beralaskan susunan glogor kayu yang berukurandiamete lebih kurang 4 cm, yang kemudian diatas susunan glogor tersebut di beri lagi alas tikar yang terbuat dari rumbia. Tinggi tiang. Rumah dari  tanah kelantai 4cm,tinggi tiang dari tanah keatap  150 cm, (kulit kayu meranti).Bentuk dan bangunan  tergantung dari banyak sedikitnya jumlah orang yang tinggal. Umah ditano dibangun di dekat ladang  agar memudahkan Orang Rimba untuk pergi keladang, seperti membersihkan ladang,melihat perkembangan ladang, atau memanen hasil ladang. Selain memudahkan mereka untuk pergi keladang, umah ditano tidak membutuhkan waktu yang lama dalam pembangunannyakarena bentuknya yang sederhana.

Dalam satu keluarga terdiri dari bepak,induk,anak laki-laki, dan anak perempuan. apabila bepak dan induk belum punya anak, rumah ditano dibangun 1saja. Apabila bepak dan induk punya 1 anak kecil baik laki-laki atau perempuan dan masih berumur dibawah 8 tahun, bepak akan membangunkan 1 umah ditano lagi untuk si anak tidur dengan induknya, dan bepak tidur sendiri.Apabila mereka memiliki 1 (satu) orang anak laki yang sudah berumur 8 tahun keatas, dan si induk melahirkan 1 anak perempuan, maka si induk tidur dengan anak perempuannya, dan bepak akan membangunkan  saturumah untuk si laki-laki. Apabila anak-anak mereka lebih 8 tahun,maka masing-masing anak laki-laki dan perempuan akan mendapatkan rumah ditano.ebelu anak mereka menginjak usia 8 tahun, bepak dan induk tidak boleh tidur satu rumah, hal ini bertujuan untuk KB alami bagi Orang Rimba. Jadi apabila 1 keluarga terdiri dari bepak, induk,dan satu anak laki-laki atau perempuan yang baru lahir, maka umah ditano mereka berjumlah 2,untuk bepak dan untuk induk beserta anaknya.saat si anak laki-laki sudah besar(telah berumur 8 tahun) maka rumah mereka berjumlah 3 rumah,untuk bepak,induk dan anak laki-laki. Kemudian apabila si induk melahirkan 1anak perempuan, maka si anak perempuan yang baru lahir akan tidur dengan induknya. Jumlah rumah nya  berarti 3 rumah,untuk bepak,induk dan anak perempuannya dan untuk anak laki-lakinya (apabila usianya telah lebih dari 8 tahun,namun kalau usianya belum lebih dari 8 tahun,anak laki-laki tetap akan tidur dengan induknya). Pada umumnya rumah ditanoh Orang Rimba untuk 1KK berjumlah 3 rumah,dan bisa lebih tergantung jumlah anak yang mereka punya.

Alasan Orang Rimba memisahkan rumah antara anak laki-laki dan Perempuan yang telah berumur lebih dari 8 tahun adalah karena rasa malu.malu karena Orang Rimba menganggap anak-anak mereka sudah cukup dewasa dan tidak seharusnya  tidur dalam satu rumah lagi.

Umah ditano biasanyaditempati beberapa bulan saja, setelah mereka tidak menempati rumahmereka berpindah ke lokasi lain atau melangun, rumah tersebut akan ditinggalkan begitu saja, mereka hanya membawa kain, peralatan dapur dan barang yang mereka anggap perlu. Rumah tersebut akan hancur dengan sendirinya, bisa dikarenakan lapuk dimakan usia atau lapuk karena rayap, hancur terkena angin atau kena pohon tumbang.

 

2. Umah Godong

Umah godong memiliki ukuran yang lebih besar dari umah ditanoh, umah godong dibangun didekat ladang  mereka, baik itu ladang sawit, ladang karet atau di kebun umbi- umbian. Rumah ini dibangun di sepanjang aliran sungai, orang rimba membangun rumah tidak mau terlaludekat dengan aliran sungai karena takut akan mencemari sungai.orang rimba menempati umah godong dalam hitungan tahun, berkisar antara 2-4 tahun, kemudian mereka pindah dan membangun rumah yang baru.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membangun umah godong adalah tiang rumah yang terbuat dari kayu meranti, atap terbuat dari daun benal atau daun serdang, dinding rumah terbuat dari kulit kayu meranti atau kulit kayu mesuai, laintai rumah terbuat dari glogor dan kulit kayu meranti. akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman maka bahan-bahan yang digunakan untuk membangun umah godong adalah atap pakai seng, dinding pakai papan, lantai pakai glogor dan papan.

Umah godong memiliki 1ruangan tamu, 1 ruangan keluarga dan 2 kamar tidur. Ukuran rumahnyapun beragam, ada yang 5X7 meter, 4X6 meter. Tinggi tiang dari tanah ±  1 meter,tinggi dinding ±  150-200 cm, dengan diameter tiang ±  10-15 cm.

Dalam satu keluarga terdapat bepak, induk, anak laki-laki dan anak perempuan.yang umurnya dibawah 8 tahun. Bepak tidur dikamar satu, induk dan anak-anaknya tidur dikamar yang satunya lagi.namun setelah anak-anak mereka berumur lebih dari 8 tahun, bepak dan induk tidur dalam kamar yang satu, anak perempuan tidur di kamar yang satunya lagi, sedangkan anak laki-laki tidur di ruang keluarga.

Ada juga cara memisahkanantara bepak, induk, anak laki-laki dan anak perempuan, seperti meninggikan ruangan. Kamar yang paling tinggi untuk bepak dan induk, ruangan untuk anak laki-laki lebih rendah dari ruangan bepak dan induk, ruangan anak-anak perempuan lebuh rendah dari ruangan anak laki-laki.ruangan tamu tingginya antara ruangan bepak dan ruangan anak laki-laki.

3. Umah Sudung

Sudung merupakan rumah yang dihuni untuk sementara oleh orang rimba. Pada saat orang rimba kemalaman diperjalanan saat bepergian, mereka membangun sesudungon, bahan-bahan yang merekagunakan adalah glogor kayu, rotan cacing dan daun topus atau daun serdang. Gelogor merupakan kayu-kayu yang berukuran diameter kira-kira 4-5 cm yang digunakan sebagai tiang penyangga atapditancapkan ke tanah. Glogor boleh digunakan dari jenis kayu apa sajayang penting kayu tersebut cukup kokoh dan kuat sebagai tiang penyangga atap.rotan cacing digunakan untuk tali atau pengikat,  Daun topus atau daun serdang digunakan untuk atap. Namun sekarang kebanyakan orang rimba menggunakan terpal atau perlak sebagai atap.

Ukuran sudung tergantung jumlah anggota keluarga yang menempatinya dan fungsi sesudungon yang dibangun. Sudung berfungsi sebagai umah kemaloman bagi orang rimba. Maksudnya , pada saat orang rimba kemalaman saat pergi berburu, mencari jernang, rotan atau getah balam, maka mereka akan membangun sudung. Ukuran sudung tergantung pada jumlah orang yang menempatinya, apabila terdapat 3 orang, ukuran sudung kira-kira 3x2 meter. Untuk membangun sesudungon membutuhkan waktu ±  1-2 jam.

Saat orang rimba pergi melangun atau pindah dari satu tempat ketempat lain (nomaden) mereka akan membawa anak istridan anggota keluarga lainnya. Setibanya di tempat yang ditujuanak laki-laki yang sudah dewasa beserta suami dan dibantu oleh keluarga yang lain untuk membangun sesudungon/umah sudung.