KERJASAMA : PENGELOLAAN KOLABORATIF KAWASAN TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS

You are here

Penunjukan TNBD selain mempunyai tujuan yang diamanatkan oleh UU Nomor 5 Tahun 1990, memiliki tujuan khusus sesuai SK Penunjukan yaitu melindungi dan melestarikan kehidupan Orang Rimba (Suku Anak Dalam) yang sejak lama berada di kawasan tersebut. Keberadaan Orang Rimba/SAD ini merupakan ciri khas yang membedakan TNBD dengan Taman Nasional lainnya di Indonesia yang kemudian berpengaruh pula terhadap pola pengelolaan kawasan.

            Meskipun mempunyai mandat untuk menjaga kehidupan dan penghidupan Orang Rimba/SAD, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas tetap terikat pada aturan seperti Taman Nasional lainnya sehingga terdapat beberapa program/kegiatan pengelolaan berkaitan dengan Orang Rimba/SAD yang tidak dapat dilakukan sepenuhnya oleh Balai TNBD. Contohnya, pemberdayaan Orang Rimba/SAD dari segi pendidikan dan kesehatan. Balai TNBD saat ini telah memfasilitasi 2 (dua) sekolah rimba yaitu Sekolah Rimba Kejasung (Batang Hari) untuk kelompok Temenggung Celitai dan sekolah Rimbo Pintar Sungai Kuning (Sarolangun) untuk kelompok Temenggung Bepayung dan Temenggung Afrizal. Sampai saat ini, Balai TNBD telah membantu operasional guru dan beberapa keperluan sekolah lainnya sementara untuk keperluan seperti bantuan biaya siswa, bangunan, dan operasional sekolah masih memerlukan peran pihak terkait lainnya. Di bidang kesehatan pun Orang Rimba/SAD juga masih memerlukan bantuan, sementara hal ini tidak dapat disediakan langsung oleh Balai TNBD karena di luar tugas dan fungsinya. Selain terkadang di luar tusi Balai TNBD, keterbatasan anggaran juga menjadi kendala pelaksanaan program/kegiatan baik yang berkaitan dengan Orang Rimba/SAD maupun pengelolaan sumberdaya alam di kawasan.

            Salah satu solusi yang kemudian diambil Balai TNBD untuk mengurangi keterbatasan dari segi tugas dan fungsi serta anggaran tersebut adalah melakukan kerjasama dengan mitra /pihak-pihak terkait. Urgensi kerjasama ini sendiri berdasarkan paparan Sekretatis Direktorat Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem pada Rapat Koordinasi Kerjasama Teknis di Bogor beberapa waktu lalu ada 2 (dua) yakni (1) mandat regulasi “ Konservasi Sumberdaya Alam Hayati merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat (Pasal 4 UU No.5/1990), (2) Kebutuhan lapangan, dimana mitra dapat mengisi kapasitas, fungsi dan peran yang tidak dapat dilakukan oleh pengelola kawasan. Ada beberapa dasar hukum pula yang diperhatikan Balai TNBD dalam melakukan kerjasama dengan para pihak yaitu PP 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan KSA dan KPA, PP 108 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas PP 28 Tahun 2011, Permen LHK Nomor.P.43/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 tentang Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar KSA dan KPA, Permen LHK No.P.44/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 tentang Perubahan atas Permenhut Nomor.P.85/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Kerjasama Penyelenggaran KSA dan KPA.

            Sampai dengan tahun 2018 ini, tercatat sebanyak 8 (delapan) Perjanjian Kerjasama yang telah dbuat oleh Balai TNBD dengan berbagai pihak pada beberapa bidang. Kerjasama-kerjasama tersebut adalah :

1. Kerjasama penelitian dengan Konsorsium Indonesia CRC 990 melalui Universitas Jambi (UNJA)

            Kerjasama ini ditandatangi pada tanggal 28 November 2016 di UNJA dengan judul dan ruang lingkup “Memorandum of Agreement antara Balai Taman Nasional Bukit Duabelas dengan Konsorsium Indonesia CRC 990 dalam kerangka Kerjasama Penelitian CRC 990/EFForTS “Ecological and Socioeconomic Functions of Tropical Lowland Rainforest Transformation Systems in Sumatra, Indonesia”. Lama kerjasama ini adalah 3 (tiga) tahun dan berakhir pada Desember 2019. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada kerjasama ini antara lain penelitian-penelitian di kawasan, pemberdayaan petugas dan Orang Rimba/SAD mellaui pelatihan-pelatihan.

 

2. Kerjasama dengan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI

            Judul kerjasama ini adalah “Pengelolaan Kolaboratif dan Pemberdayaan Orang Rimba di Kawasan TNBD” dengan ruang lingkup peningkatan partisipasi Orang Rimba dan masyarakat sekitar dalam pengelolaan kawasan TNBD, penguatan kelembagaan Orang Rimba, peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan Orang Rimba dan pemberdayaan ekonomi Orang Rimba yang mendukung pelestarian kawasan TNBD. Sejak ditandatangani pada tanggal 13 Februari 2017 lalu telah dilakukan beberapa kolaborasi seperti fasilitasi pertemuan-pertemuan dengan Orang Rimba/SAD terkait pengelolaan kawasan.

 

3. Kerjasama dengan PT. Sari Aditya Loka 1 (PT.SAL)

            Ditandatangani pada tanggal 5 April 2018 di Jakarta dengan judul “Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil/(KAT)/Suku Anak Dalam (SAD) Secara Berkelanjutan di Dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas”. Ruang lingkupnya adalah pemberdayaan ekonomi, peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan kualitas kesehatan KAT/SAD Kelompok Tumenggung Grip dan Tumenggung Bepayung yang tinggal di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) antara lain pemeriksaan kesehatan rutin bagi Orang Rimba/SAD, bantuan operasional guru dan biaya pendidikan siswa Orang Rimba/SAD, pembelian karet Orang Rimba/SAD, pemberian bantuan jernang serta berpartisipasi dalam kegiatan Balai TNBD salah satunya Parade Konservasi.

4. Kerjasama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Batang Hari

Kerjasama ini dilakukan melalui Berita Acara yang ditandatangani pada tanggal 5 Oktober 2017 tentang “Pembangunan Areal Konservasi Genetik Jenis Tembesu (Fragraea fragrans) di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas”. Kerjasama ini khusus untuk pengembangan tembesu di kawasan di kawasan TNBD selama 5 (lima) tahun sampai dengan 2022.

5. Kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sarolangun

            Kerjasama ini ditandatangani pada tanggal 7 September 2018 lalu antara Kepala Balai TNBD dengan Bupati Sarolangun yang bertepatan dengan Kunjungan Kerja Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem ke kawasan TNBD. Kerjasama yang akan berlangsung selama 5 (lima) tahun ini berjudul ” Penguatan Fungsi Taman Nasional Bukit Duabelas dalam Pengamanan dan Perlindungan Kawasan, Pengembangan Wisata dan Pemberdayaan Suku Anak Dalam (SAD)”. Dalam kerjasama ini, akan dilakukan kegiatan seperti pembuatan jalan patroli di kawasan TNBD yang sekaligus dapat menjadi akses bagi Orang Rimba/SAD khususnya untuk mengangkut hasil kebunnya berupa karet untuk dijual keluar kawasan. Pengembangan wisata akan difokuskan pada objek wisata Bukit Bogor yang berlokasi di Desa Bukit Suban dan telah dikelola bersama masyarakat sekitar melalui BumDes. Selain itu, kerjasama ini juga akan menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan di Kampung Terpadu Madani SAD di Desa Lubuk Jering yang dapat diakses pula oleh Orang Rimba/SAD di sekitar kawasan tersebut.

6. Kerjasama dengan Kelompok Temenggung Grip,

7. Kerjasama dengan Temenggung Bepayung, dan

8. Kerjasama dengan Temenggung Nangkui

            Ketiga kerjasama di atas ditandatangani juga ditandatnagni pada tanggal 7 September 2018 lalu, bersamaan dengan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sarolangun dan disaksikan langsung oleh Dirjen KSDAE. Judul kerjasama ini adalah “Penguatan Fungsi Kawasan Pelestarian Alam berupa Pemberdayaan Komunitas Suku Anak Dalam (SAD) Secara Berkelanjutan Melalui Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu di Zona Tradisional Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas” dengan ruang lingkup yaitu :

  1. Pemanfaatan dan pengembangan HHBK secara lestari khususnya di zona tradisional, meliputi :
  • Jenis Rotan (jernang, manau, rotan, tebu-tebu dan lain-lain)
  • Buah-buahan (jengkol, petai, durian, tampuy, rinam, kuduk kuya, durian daun, duku, rambutan, dekat, kotopon, dan lain-lain)
  • Umbi-umbian (gadung, benor, keladi, hubi, kembili dan lain-lain)
  • Madu sialang
  • Tumbuhan obat
  • Damar
  • Kepayong
  • Enau
  • Pinang

Dan jenis lainnya sesuai dengan potensi di wilayah Temenggung Nangkus.

  1. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia komunitas SAD kelompok Temenggung Nangkus
  2. Pendampingan kelompok SAD Kelompok Temenggung Nangkus
  3. Menjaga kelestarian kawasan

            Beberapa kegiatan yang telah dilakukan dalam kerjasama ini adalah pembuatan kebun jernang di Kelompok Grip dan Bepayung, Pengayaan Benuaron dengan pohon buah-buahan dan pemberian bantuan bibit jernang sebanyak 500 batang per kelompok.

            Melalui kerjasama-kerjasama yang telah dijalin Balai TNBD dengan berbagai pihai di tas, diharapkan keterbatasan-keterbatasan yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan dapat diatasi yang pada akhirnya akan mencapai tujuan penunjukan kawasan dimana kehidupan Orang Rimba/SAD terjaga keberlangsungannya dan sejahtera  selaras dengan kelestarian sumberdaya alam di kawasan TNBD.

No

Nama Peneliti

Keterangan

 

1

2

3

1

Kerjasama penelitian dengan Konsorsium Indonesia CRC 990 melalui Universitas Jambi (UNJA)

Kerjasama ini ditandatangi pada tanggal 28 November 2016 di UNJA dengan judul dan ruang lingkup “Memorandum of Agreement antara Balai Taman Nasional Bukit Duabelas dengan Konsorsium Indonesia CRC 990 dalam kerangka Kerjasama Penelitian CRC 990/EFForTS “Ecological and Socioeconomic Functions of Tropical Lowland Rainforest Transformation Systems in Sumatra, Indonesia”. Lama kerjasama ini adalah 3 (tiga) tahun dan berakhir pada Desember 2019.

2

Kerjasama dengan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI

 

Judul kerjasama ini adalah “Pengelolaan Kolaboratif dan Pemberdayaan Orang Rimba di Kawasan TNBD” dengan ruang lingkup peningkatan partisipasi Orang Rimba dan masyarakat sekitar dalam pengelolaan kawasan TNBD, penguatan kelembagaan Orang Rimba, peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan Orang Rimba dan pemberdayaan ekonomi Orang Rimba yang mendukung pelestarian kawasan TNBD.

3

Kerjasama dengan PT. Sari Aditya Loka 1 (PT.SAL)

Ditandatangani pada tanggal 5 April 2018 di Jakarta dengan judul “Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil/(KAT)/Suku Anak Dalam (SAD) Secara Berkelanjutan di Dalam Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas”. Ruang lingkupnya adalah pemberdayaan ekonomi, peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan kualitas kesehatan KAT/SAD Kelompok Tumenggung Grip dan Tumenggung Bepayung yang tinggal di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas.

4

Kerjasama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Batang Hari

Kerjasama ini dilakukan melalui Berita Acara yang ditandatangani pada tanggal 5 Oktober 2017 tentang “Pembangunan Areal Konservasi Genetik Jenis Tembesu (Fragraea fragrans) di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas”. Kerjasama ini khusus untuk pengembangan tembesu di kawasan di kawasan TNBD selama 5 (lima) tahun sampai dengan 2022.

5

Kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sarolangun

Kerjasama ini ditandatangani pada tanggal 7 September 2018 lalu antara Kepala Balai TNBD dengan Bupati Sarolangun yang bertepatan dengan Kunjungan Kerja Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem ke kawasan TNBD. Kerjasama yang akan berlangsung selama 5 (lima) tahun ini berjudul ” Penguatan Fungsi Taman Nasional Bukit Duabelas dalam Pengamanan dan Perlindungan Kawasan, Pengembangan Wisata dan Pemberdayaan Suku Anak Dalam (SAD)”.

6

Kerjasama dengan Kelompok Temenggung Grip, Nangkui, dan Bepayung

Ketiga kerjasama tersebut juga ditanda tangani tanggal 7 September 2018 lalu bersamaan dengan kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sarolangun dan disaksikan langsung oleh Dirjen KSDAE. Judul kerjasama ini adalah “Penguatan Fungsi Kawasan Pelestarian Alam berupa Pemberdayaan Komunitas Suku Anak Dalam (SAD) Secara Berkelanjutan Melalui Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu di Zona Tradisional Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas” dengan ruang lingkup yaitu :

  1. Pemanfaatan dan pengembangan HHBK secara lestari khususnya di zona tradisional, meliputi : Jenis Rotan, Buah-buahan, Umbi-umbian, Madu sialang, Tumbuhan obat , Damar, Kepayong, Enau, Pinang
  2. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pendampingan komunitas SAD kelompok Temenggung Nangkus, dan menjaga kawasan