Jernang, Emas Rimba yang Terancam Punah

You are here

Kamis, 05 November 2020

 

Rotan, kita semua tahu. Tapi apakah Anda tahu apa itu jernang? Jernang adalah produk turunan dari rotan, dipakai jadi bahan baku pewarna di industri porselen. Harganya mahal, tapi kebakaran hutan dan lahan membuat jernang makin sulit dicari. Suku Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi kini belajar budidaya jernang supaya tak punah. Kontributor KBR Elvydayanty Darkasih menelusuri hutan di Kabupaten Sarolangun, Jambi, dan mencari tahu soal jernang ini.

KBR,Jambi - Hari beranjak malam. Di sebuah balai-balai, Tengganai Besemen, sedang bededekiran – meratapi kondisi hutan yang terus berkurang.

Tengganai adalah pemangku adat Suku Orang Rimba di selatan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi.

“Layang-layang, menitik air mata, memandang rimba lah sudah habis. Masa nenek moyang, di rimba segalanya ada. Kini jauh berubah. Alam semakin sesak,“ Bededekiran sama dengan berdoa, atau memohon kepada Dewa. “Zaman masih masa bapak menjelang ke masa nenek kami, kemana kita pergi rimba segala ada. Kini, semenjak PT-PT (perusahaan) masuk, trans-trans (transmigrasi) juga masuk, jadi kami kesempitan hutan. Kemana dilihat ada sawit, ada karet, jadi tidak lagi seperti biasa,“ kata Tengganai. Yang juga tak biasa: makin sulit mendapatkan jernang.  “Dulu sebelum ada PT, sebelum ada transmigran masuk, kita be-jernang sehari saja bisa mencapai 2-3 kilo dapat per orang. Karena jernang masih padat, ke mana-mana saja hutan masih ada jernangnya, jernang tidak rusak. Kalo sekarang, 2 hari 3 hari kita mencari itu 5 mato (ons) saja susah kita mencari. Jadi jauh berbeda,“ lanjutnya.

Jernang adalah buah dari tanaman sejenis rotan. Di perdagangan internasional, sebutannya dragon blood alias darah naga. Jernang dibutuhkan untuk bahan obat, kosmetik, bahan pewarna porselen dan marmer. Kebutuhan ekspor Jernang mencapai 400 ton setiap tahunnya, sementara Indonesia hanya mampu menyediakan 10 persen dengan nilai ekspor Jernang mencapai US$ 10 juta per tahun. Jernang hanya bisa hidup di hutan dengan kanopi lebat. Tapi kini hutan lebat sudah bersalin rupa menjadi kebun kelapa sawit, area transmigrasi, atau terbakar. Kebakaran hutan dan lahan terjadi hampir tiap tahun di sini. Tahun 2015 silam, areal Taman Nasional Bukit Duabelas sampai 100 hektar, kata Gemambun, Orang Rimba dari selatan Taman Nasional. “Seperti kebun-kebun banyak yang hilang. Seperti tenggeris, sentubung, buah-buahan di dalam hutan juga banyak yang hilang. Durian, rambutan, banyak yang hilang karena kebakaran tahun itu,“ kisah Gemambun.

Orang Rimba pun sebetulnya punya aturan tersendiri soal mengambil jernang. Jernang harus diambil serempak, sehingga pembagian lebih adil. Tapi kata pemangku adat Tengganai Besemen, aturan sering dilanggar Orang Rimba. “Kalo sekarang, karena jernang sudah mahal, jadi mengambil jernang itu tidak lagi mengikuti aturan. Kadang baru sebesar batang rokok, itu sudah mulai diambil. Jadi, mana yang duluan mengambil, dapat. Yang terlambat, tidak kebagian lagi,“ tutur Tengganai.

Ini adalah ladang untuk budidaya pengembangan tanaman jernang. Butuh 1 jam jalan kaki atau dengan motor trail dari kantor Resort Air Hitam di Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi, mengingat akses ke lokasi yang cukup ekstrem. “Kita sekarang berada di demplot jernang, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas, untuk wilayahnya kalau Orang Rimba menyebutnya Bukit Berumbung. Jadi, demplot jernang ini luasannya sekitar 100 hektar. Dan kita sudah beberapa kali melakukan budidaya,“ ujar Wawan Hermawan, Kepala Resort Air Hitam Balai TNBD.

Wawan menjelaskan budidaya jernang ini dilakukan di area di mana jernang pernah tumbuh dengan baik. Jernang perlu dibudidayakan karena jumlahnya makin sedikit, di tengah hutan Jambi yang terus terancam kebakaran hutan dan lahan. Dengan kondisi hutan yang cukup baik, ada jernang yang sudah berusia sekitar 20-an tahun. Jernang memang butuh hutan yang baik, serta pohon lain untuk merambat dan berkembang biak. Tantangannya sekarang adalah mendapatkan bibit jernang yang bagus. Sebab, banyak jernang yang keburu dipanen saat usia muda -- padahal bibit jernang yang baik hanya bisa didapat ketika buah jernang sudah matang.

Erinaldi dari Komunitas Konservasi Indonesia Warsi. “Kesulitan dalam proses pengembangan ini adalah karena jernang yang banyak getahnya itu pada buah muda, sehingga dipanen pada masa buah muda. Sehingga menyulitkan memang untuk mendapatkan buah masak untuk dijadikan benih dan bibit,“ ujar Erinaldi. Selain itu, proses pembibitan juga cukup lama.

“Biasanya jernang itu secara alami dia akan tumbuh 6 sampai 8 bulan baru berkecambah. Akhirnya, dengan 3 tahun lamanya percobaan, ditemukan caranya 1 minggu sampai 2 minggu sudah bisa berkecambah. Artinya, kita bisa memotong waktu itu lima sampai tujuh bulan untuk proses pembibitan,“ imbuhnya.

Balai Taman Nasional Bukit Duabelas Jambi juga membuat demplot untuk jernang yang dikelola oleh Suku Orang Rimba di bagian selatan taman nasional ini, kata Wawan. “Kemudian ada juga kita kasih bantuan ke Suku Anak Dalam Temeggung Gripp, tapi itu untuk demplot komunal kelompok mereka. Tetapi yang khusus dikelola pihak Balai baru satu, yang dikelola dari bantuan Balai taman nasional itu satu juga, di rombongan Temenggung Gripp, tepatnya di Sungai Sako Selinsing,“ ujar Wawan.

Orang Rimba bernama Sepinta sudah ikut pelatihan untuk pengembangan jernang. "Kalau bantuan dari luar ada pelatihan-pelatihan dari Warsi, dari Balai ada pelatihan menanam jernang. Ada juga bantuan dari Balai itu bibit jernang Burung, kalau jernang Bonor seperti ini belum ada. Kalau yang baik itu, yang harus dikembangkan itu jernang Bonor ini, jernang yang paling baik dan mahal harganya," kata Sepinta. Namun di demplot ini, mereka bisa mendapatkan jauh lebih besar. Di area 1 hektar lahan ini, bisa ditanam 50-70 batang tanaman jernang, plus tanaman lain sebagai rambatan sekaligus bisa menghasilkan seperti petai dan jengkol. Dari situ, mereka bisa mendapatkan Rp75 juta sekali panen.

Erinaldi dari KKI Warsi mengatakan, budidaya jernang bisa menjadi alternatif pilihan yang lebih ramah lingkungan daripada menanam sawit. “Untuk satu hektar yang dicampur dengan komoditi lain, kalau dia berbuah setengahnya, artinya 25 kg per musim itu bisa didapat. Kalau dengan harga rata-rata biasanya Rp3 juta per kg,artinya mereka sudah mendapat sekitar Rp75 juta per musim. Sedangkan jernang dalam satu tahun minimal dua musim,“ terang Erinaldi. Bagi orang Rimba seperti Sepinta, keberadaan demplot membantu penghidupannya. Namun, ia berharap budidaya jernang berkelanjutan itu bisa dilakukan di lahan yang pernah terbakar. Sebab, jernang bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga bagian dari tradisi orang Rimba menjaga lingkungan. “Demplot jernang itu sudah ditanam satu hektar memang ditanam penuh dengan jernang kan? Tapi waktu menanamnya itu menurutku salah cara menanamnya. Balai menanamya di hutan yang masih utuh. Seharusnya Balai Taman Nasional Bukit Duabelas menanam di kawasan yang terbakar dulu. Pohon-pohon kan ada yang ditanam di lokasi kebakaran, menurutku lebih bagus kalo menanam jernang di lokasi yang ditanami pohon-pohon itu. Jadi sekalian kan?“ kata Sepinta.

.

.

.

Reporter:  Elvydayanty Darkasih

Editor:       Citra Dyah Prastuti