JENIS-JENIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU DI KAWASAN TAMAN NASONAL BUKIT DUABELAS YANG DIMANFAATKAN OLEH ORANG RIMBA

You are here

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan salah satu sumber penghidupan Orang Rimba yang ada di kawasan TNBD dan sekitarnya. HHBK ini dimanfaatkan oleh Orang Rimba sebagai sumber pendapatan, sumber makanan dan sumber bibit  untuk tanaman. Beberapa jenis hasil hutan bukan kayu yang terdapat di kawasan TNBD dan dimanfaatkan oleh Orang Rimba. Berdasarkan nilai ekonominya, maka  hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh Orang Rimba ini dapat dibedakan menjadi hasil hutan bukan kayu non komersil dan komersil.

A. Non komersil

Jenis-jenis hasil hutan bukan kayu yang non komersil biasanya diambil secara langsung di hutan untuk konsumsi keluarga. Terdapat juga beberapa jenis yang dibudidayakan oleh Orang Rimba di ladang atau kebunnya.  Hasil hutan bukan kayu jenis-jenisnya adalah sebagai berikut :

1. Buah-buahan

Terdapat banyak jenis buah-buahan hutan yang dikonsumsi oleh Orang Rimba di kawasan TNBD, baik yang musiman maupun yang berbuah sepanjang tahunnya. Buah-buahan ini merupakan sumber makanan penting bagi Orang Rimba sehingga sangat dinanti-nantikan oleh mereka. Musim buah adalah musim “berpesta” karena makanan berlimpah, sehingga pada zaman dahulu ada ritual yang dilakukan untuk menyambut musim buah dan saat musim buah. Ritual ini masih dipertahankan oleh kelompok Orang Rimba yang tinggal jauh di dalam kawasan.

Beberapa jenis buah yang ada di kawasan dan biasa dikonsumsi Orang Rimba adalah cempedak, siuh, dekat, rambutan hutan, gitan, buntor, siabuk, kuduk kuya/kuduk biawak, tayoy, pedaro, salak hutan, nadai/rambai, pisang krayak, durian haji, tampuy kuning, tampuy nasi, tampuy rimba, lansat, tampuy tengkerawok, tupa, jengkolut, duarian daun, kasai, koncing undi/akar kuning, kotopon, kabau, jagul/benton, tampuy sibenggang, bekil, duku, harong paro, ngongorit, ranggung, ridon, tukak on, ajon dan tungau. Selain itu terdapat beberapa jenis pisang yang biasa ditanam Orang Rimba di ladang yaitu pisang embun, pisang susu, pisang kelembouy, pisang empang, pisang gembur, pisang bulu, dan pisang bungo. Orang Rimba juga mengkonsumsi jengkol dan petai.

Pentingnya keberadaan buah-buahan menyebabkan adanya aturan adat terkait dengan buah-buahan seperti tidak boleh menebang pohon buah terutama yang sudah pernah berbuah. Barang siapa melanggara adat ini maka akan dikenakan hukuman. Oleh karena itu, dalam membuat ladang/kebun, Orang Rimba akan membiarkan pohon buah-buahan (tidak ditebang) sehinga pada kebun karet Orang Rimba sangat umum ditemui bercampur dengan pohon buah. Selain itu, Orang Rimba juga mempunyai benuaron, semacam kebun buah dimana banyak pohon buah yang dibiarkan tumbuh atau sengaa ditanam pada satu hamparan. Masing-masing kelompok biasanya memiliki benuaron sendiri, selain itu ada pula benuaron milik pribadi.

2. Umbi-umbian

Umbi-umbian merupakan makanan pokok Orang Rimba. Ubi kayu atau singkong adalah jenis yang paling banyak ditanam dan dijadikan makanan pokok. Selain ubi kayu terdapat beberapa jenis umbi-umbian lain yang dipanen dari hutan atau pun ditanam di ladang yaitu :

  • Ubi pilo/ ubi rambat/ubi jalar,  biasanya ditanam ladang dan tidak ditemukan tumbuh liar di hutan.
  • Gedung/gadung , diambil dari hutan. Gadung biasanya baru diambil Orang Rimba saat musim remayau atau paceklik. Gedung menjadi pilihan terakhir karena mengandung racun sehingga memerlukan waktu untuk mengolahnya sebelum dikonsumsi.
  • Benor (benor godong, benor licin, benor lebo, benor dompay dan benor seluang). Jenis ini palng banyak dicari oleh Orang Rimba jika ubi kayu belum menghasilkan. Menurut Orang Rimba, benor tidak bisa ditanam sehingga mereka hanya memanennya dari hutan.
  • Keladi (keladi santai, abang pinggang, kambau, rumpun pisang, mangkuk dan keladi kuning yang dapat dimakan mentah). Banyak ditanam di ladang.
  • Hubi, mirip dengan ubi pilo tetapi daunnya seperti daun sirih, licin dan tangkainya merah. Jenisjenisnya hubi kelapo, hubi jeri, hubi gejoh, hubi maniy, hubi tihang, hubi kembili, hubi kembalung, dan hubi hitam yang digunakan juga untuk mengobati diare dan demam. Keladi banyak ditanam di ladang.
  • Gentung tuba
  • Jerung
  • Kona ; umbi ini berwarna merah dengan  berat bisa mencapai 20 kg
  • Behay; seperti ubi kayu. Dikonsumsi oleh ibuibu yang baru melahirkan untuk memperbanyak produksi ASI.
  • Jenggot, umbinya seperti ubi pilo berwarna merah dengan ukuran besar.
  • Ubi pikul yang diambil isi dari tunas umbinya.

3. Madu sialang

Madu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang penting bagi Orang Rimba. Musim madu selalu dinanti-nantikan oleh Orang Rimba. Lebah dalam bahsa rimba disebut dengan sialang sehingga pohon tempat lebah bersarang disebut dengan pohon sialang. Ada beberapa jenis pohon sialang yaitu kempas, kedodong dan keruing. Jenis yang paling banyak dihinggapi lebah adalah kedondong sehingga anakan kedondong biasanya tidak ditebang agar dapat tumbuh besar dan dijadikan tempat bersarang lebah.

Pentingnya pohon sialang ini menyebabkan adanya larangan untuk melukai atau menebang pohon sialang terutama yang sudah dihinggapi lebah. Bagi yang melukai atau menebang pohon sialang sehingga lebah tidak mau lagi bersarang akan dikenakan sanksi adat yang cukup besar. Pohon sialang biasanya adalah milik pribadi dari Orang Rimba sehingga yang bisa mengambil madunya adalah si pemilik atau orang yang diberi izin oleh pemiliknya.

Panen madu pada Orang Rimba dilakukan pada malam hari agar tidak disengat lebah. Cara memanen madunya pun cukup unik, yaitu dengan cara memanjat pohon sialang yang cukup tinggi tersebut dengan menggunakan lantak. Lantak merupakan anak tangga yang dibuat dengan cara menancapkan kayu pada batang sialang sehingga menyerupai tangga. Lantak biasanya terbuat dari kayu pisang yang menurut Orang Rimba cukup kuat sehingga dapat digunakan untuk panen madu berikutnya. Pemanjat pohon sialang pun biasanya tertentu, tidak semua Orang Rimba mampu memanjat pohon sialang.

Sebelum mengenal minuman seperti kopi, minum madu merupakan kebiasaan Orang Rimba dari zaman ennek moyangnya. Minum madu dilakukan pada pagi hari dengan mencampurkan madu dengan sedikit air menggunakan cangkir yang terbuat dari bambu. Tetapi kebiasaan ini perlahan hilang karena adanya minuman yang lebih praktis seperti kopi, teh atau susu. Madu saat ini dikonsumsi sebagai pencampur makanan atau diminum sebagai obat.

4. Tumbuhan obat-obatan

Saat ini terdapat sekitar 43 jenis tumbuhan yang teridentifikasi di kawasan TNBD berdasarkan keterangan Orang Rimba. Jenis-jenis tumbuhan obat ini dapat dibaca pada artikel tentang tumbuhan obat di kawasan TNBD. Meskipun telah mengenal pengobatan secara medis, tumbuhan obat masih dimanfaatkan oleh Orang Rimba sebagai pertolongan pertama terutama bagi kelompok yang masih tinggal jauh di dalam kawasan dan jarang berinteraksi dengan masyarakat luar. Selain itu, keberadaan tumbuhan obat di kawasan TNBD merupakan salah satu tujuan khusus penunjukan TNBD.

5. Hewan

Berburu masih dilakukan oleh Orang Rimba sampai saat ini untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk. Sebagian besar jenis yang diburu adalah nanguy/babi. Orang Rimba juga menangkap ikan dan labi-labi  yang ada di sungai-sungai di sekitar tempat tinggalnya.

B. Komersil

Selain jenis-jenis non komersil, Orang Rimba juga memungut hasil hutan bukan kayu bernilai ekonomi dari kawasan TNBD. Jensi-jenis hasil hutan bukan kayu yang komersil ini baru diambil jika ada penampung di desa. Mencari dan menjual hasil hutan bukan kayu komersil ini merupakan pekerjaan sampingan Orang Rimba selain menyadap karet.

Beberapa jenis hasil hutan bukan kayu yang komersil dan dipanen oleh Orang Rimba adalah :

1. Rotan-rotanan

  • Jernang (Daemonorops draco) atau dikenal juga dengan nama dragon blood. Jernang bisa dikatakan primadona dari semua rotan karena harganya yang mahal serta jumlahnya yang semakin sedikit di kawasan. Bagian yang diambil adalah getah buahnya. Sejak zaman dahulu, Orang Rimba memang sudah dikenal sebagai pengumpul getah jernang yang kemudian dijual kepada pengumpul di desa terdekat. Harga getah jernang dengan kualitas baik saat ini adalah Rp. 500.000/gr.

Saat musim jernang tiba, banyak Orang Rimba yang “bemalom”/bermalam di daerah yang kira-kira banyak jernang yang berbuah. Tidak ada sistem budidaya jernang pada Orang Rimba sehingga siapa cepat dialah yang akan memanen jernang. Hal ini menyebabkan jarang buah jernang yang sampai matang dengan baik dan bisa dijadikan bibit sehigga perbanyakan di alam hanya dari tunas.

Belakangan ini, mulai banyak pihak yang  melakukan penelitian tentang budidaya jernang karena nilai ekonominya yang tinggi serta sejalan dengan konservasi termasuk Balai TNBD. Jernang diharapka dapat menjadi komoditas yang dapat memadukan upaya konservasi kawasan dengan peningkatan kesejahteraan Orang Rimba. Untuk itu, beberapa waktu lalu, Balai TNBD menyelenggarakan pelatihan budidaya jernang bagi masyarakat sekitar kawasan dan Orang Rimba.

  • Rotan, harga rotan dengan panjang 3 m di pengumpul di Desa Bukit Suban adalah Rp.9.000/batang.
  • Manau, sejenis rotan dengan ukuran lebih besar. Harga manau dengan panjang 3 m sama dengan harga rotan yaitu Rp.9.000/batang.
  • Tebutebu, sejenis rotan dengan ukuran hamper sama dengan manau. Harga tebu-tebu dengan panjang 4 m adalah Rp.9.000/batang.

2. Damar

Terdiri dari beberapa jenis yaitu damar tulang, damar tanah, damar sarang dan damar cengal yang harganya paling mahal. Harga damar di pengumpul berkisar antara Rp.1.000 – Rp.2.000/kg. Saat ini, damar termasuk yang paling banyak dicari oleh Orang Rimba hanya saja harganya sangat tergantung pada pengumpul di desa.

3. Getah

Selain karet yang memang dibudidayakan oelh Orang Rimba, getah jelutung termasuk jenis hasil hutan bukan kayu yang dipanen oleh Orang Rimba sejak dulu. Sayangnya, saat ini tidak ada pengumpul getah jelutung lagi sehingga Orang rimba tidak lagi menyadap getah jelutung.

4. Tumbuhan Obat

Ada 2 (dua) jenis tumbuhan obat yang mempunyai nilai komersil dan dikumpulkan oleh Orang Rimba yaitu akar keloloit dan tunjuk langit. Orang Rimba sendiri tidak mengetahui manfaat dari kedua tumbuhan obat ini. Mereka hanya menjualnya untuk mendapatkan pemasukan. Harga tunjuk langit kering adalah Rp.25.000/kg. Untuk mendapatkan 1 kg tunjuk langit kering tentu diperlukan jumlah tunjuk langit yang cukup banyak, sementara belum ada budidaya yang dilakukan baik oleh Orang Rimba atau pun di luar kawasan sehingga tanpa pendampingan dan pengawasan bisa sangat mengancam keberadaan tunjuk langit di kawasan TNBD.

5. Tunom/merpayang

Pohon merpayang ini diambil buahnya dengan harga per kg adalah Rp.75.000. Cara memanennya dengan menebang batang pohon merpayang karena pohonya cukup tinggi jika dipanjat. Cara pemanenan seperti ini tentu saja tidak konservatif sehingga sangat perlu diberikan pemahaman kepada Orang rimba agar dapat mengubah cara panennya.

6. Kapur buluh

Kapur buluh merupakan padatan berwarna putih seperti kapur yang terdapat dalam ruas-ruas buluh/bambu tertentu. Harga kapur buluh adalah Rp.70.000/kg. Kapur buluh ini diperoleh dengan cara menebang batang bambu dan memerlukan banyak batang bambu untuk mendapatkan 1 kg kapur buluh karena tidak semua ruas bambu mengandung kapur tersebut.

Keberadaan hasil hutan bukan kayu mempunyai efek positif dn negative bagi pengelolaan kawasan. Positifnya karena dapat dijadikan alternatif pendapatan atau sumber makanan bagi Orang Rimba sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Negatifnya, cara pemanenan yang tidak konservatif terutama untuk jenis-jenis yang komersil perlu diperbaiki dengan cara memberikan pemahaman dan pengertian kepada Orang Rimba tentang pentingnya memanen secara lestari, menunjukan cara-cara pemanenan yang lebih konservatif atau cara pengolahan hasil hutan bukan kayu yang memberikan nilai tambah, bukan hanya dijual mentah. Hal-hal ini perlu diperkuat melalui penyuluhan, pelatihan studi banding dan lain sebagainya oleh Balai TNBD dengan melibatkan stakeholder terkait agar jenis-jenis hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh Orang Rimba tersebut tidak punah dari kawasan.