JELAJAH BUKIT DUABELAS

You are here

Hai Sobat Bukit Duabelas. Dalam rangka mengeksplorasi Potensi Kawasan Bukit Dubelas seperti Satwa Liar, Keanekaragaman Hayati dan Budaya Orang Rimba/ Suku Anak Dalam (SAD). Balai Taman Nasional Bukit Duabelas melaksanakan kegiatan Jelajah Bukit Duabelas pada tanggal 17 s.d 26 Juli 2019. Kegiatan ini  diharapkan dapat memberikan gambaran data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengelolaan Taman Nasional Bukit Duabelas kedepannya. Dalam pelaksanaannya kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh petugas BTNBD, tetapi juga melibatkan tenaga ahli dari Zoologycal London Society (ZSL) dan Save Indonesian Nature & Threatened Species (SINTAS).  Adapun misi utamanya adalah mencari data keberadaan Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, sekaligus sebagai bagian dari Sumatran Wide Tiger Survei 2019.

Sobat sekalian.... Sebelum kegiatan ini dilakukan, tim dari BTNBD, ZSL dan SINTAS melakukan In - House Training sebagai persiapan pelaksanaan Jelajah Bukit Duabelas. Selama In – House Training, tim pelaksana dilatih oleh rekan-rekan dari ZSL dan SINTAS mengenai metode yang akan digunakan, dan operasionalisasinya. Metode yang digunakan yaitu Survei Okupansi dimana prinsip umumnya pengambilan data dilakukan pada jalur Satwa di dalam grid sel. Data yang diambil berupa temuan langsung dan tidak langsung, memiliki informasi spasial, kepastian dan keseragaman identifikasi jejak serta foto temuan sebagai bahan verifikasi.

Nah Sobat sekalian…. Apakah sobat semua tau peralatan apa saja yang digunakan dalam kegiatan ini ? Jawabannya adalah GPS, Kamera, Densiometer, Tally Sheet, dan alat ukur berupa (penggaris, pita ukur) sebagai pembanding. Dalam SurveiOokupansi terdapat 3 (tiga) data primer yakni :

  1. Observasi di Lapangan - Data Satwa, Gangguan, Sampling Covariate, Sample Feses
  2. Data Spasial - Waypoint Temuan, Track Log Perjalanan
  3. Dokumentasi - Foto dan video temuan

Adapun tata cara dalam pelaksanaan survei kali ini dilakukan dengan berjalan kaki dan mengamati setiap temuan (langsung, jejak, gangguan) dan mencatat setiap data yang ditemukan. agar kegiatan survei dapat berjalan dengan effisien dibuatlah petak survei berukuran 17 x 17 meter dan setiap petak memiliki panjang jalur 4 – 40 km dengan panjang jalur dibagi ke dalam "ulangan" setiap 1 Km, masing-masing ulangan terbagi dalam segmen 200 m. Fungsi dari ulangan tersebut adalah apabila pelaksana survei menemukan 2 (dua) hingga 3(tiga) spesies dan temuan yang sama pada segmen pertama dan kedua maka segmen ketiga cukup dituliskan satu kali, jika spesies dan temuan berbeda dalam segmen pertama dan kedua maka perjumpaan dicatat kembali. Berikutnya adalah tata cara dalam mengambil foto temuan, foto setiap temuan selalu didokumentasikan dan apabila temuan berupa jejak gunakan lah alat ukur sebagai pembanding dari ukuran jejak tersebut dan yang tidak kalah penting foto harus cukup cahaya, sudut pengambilan yang tepat dan jangan lupa mendokumentasikan foto besama saat survei.

Nah Sobat sekalian setelah melakukan perjalanan yang panjang melakukan Jelajah Bukit Duabelas tim dari BTNBD, ZSL dan SINTAS kembali ke kantor Balai Taman Nasional Bukit Duabelas dalam keadaan sehat dan tetap semangat dan setelah beristirahat kurang lebih 1 (satu) hari tim dari BTNBD, ZSL dan SINTAS menggolah data lapangan ke dalam laptop. Sobat sekalian walaupun Harimau Sumatera yang kita cari belum menemukan tanda-tanda keberadaan namun berbagai jenis satwa dilindungi berhasil dijumpai keberadaannya secara tidak langsung melalui bekas cakaran, jejak, gesekan, kotoran dan kaisan. Beberapa hasil dari temuan tersebut telah di Identifikasi jenisnya yakni macan dahan (Felis diardi), beruang madu (Helarctos malayanus), tapir (Tapirus indicus), rusa (Cervus unicololor), kijang (Muntiacus muntjak), kancil (Tragulus sp), dll. Kendala utama yang dihadapi saat pelaksanaan survei adalah mengeringnya sumber air terutama sungai-sungai kecil dikarenakan musim kemarau, hanya sungai-sungai utama lah yang masih mengalir, dikarenakan musim kemarau kondisi tanah menjadi kering dan sulit untuk menjumpai bekas jejak dan tanda-tanda perjumpaan tidak langsung satwa liar di TNBD. Semangat pantang menyerah yang terus dikorbakan  dengan harapan agar tetap lestarinya satwa liar dan keanekaragaman hayati di Taman nasional Bukit Duabelas.

Nah Sobat Bukit Duabelas Semua Mari kita bersama-sama ikut berpartisipasi aktif untuk menjaga pelestarian Satwa Liar. Salam Lestari…….