Hutan Lestari, Orang Rimba Sejahtera....

You are here

Hutan Bukit Duabelas adalah rumah Orang Rimba, sekaligus menjadi sumber penghidupan mereka sejak lama secara  turun temurun. Proses kehidupan yang sudah berlangsung lama tersebut, telah membentuk peradaban dan budaya saling ketergantungan antara manusia dan alam, manusia dengan hutan, yang harmonis dalam tatanan kehidupan tradisional yang kuat karena dibalut oleh aturan adat dan kearifan lokalnya.

Negara hadir dan menunjuk Hutan Bukit Duabelas menjadi taman nasional pada tahun 2000 dengan mandat khusus untuk melindungi dan mempertahankan fungsinya sebagai sumber penghidupan secara terus menerus atau berkelanjutan, serta memastikan bahwa fungsi tersebut mampu memberikan kesejahteraan bagi Orang Rimba. Oleh karena itu, pengelolaan Taman  Nasional Bukit Duabelas harus mengakomodir dan mengadaptasi aturan adat dan kearifan lokal Orang Rimba, agar tujuan pengelolaan yaitu Hutan Bukit Duabelas lestari dan Orang Rimba sejahtera bisa tercapai.

Untuk mewujudkan cita-cita di atas, maka Orang Rimba harus menjadi subyek atau pelaku utama dalam pengelolaan taman nasional sebagaimana prinsip pertama dari 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi yang dicanangkan oleh Bapak Dirjen KSDAE. Pelaku utama dimaksud, seperti misalnya, Orang Rimba menjadi operator sendiri dalam pengembangan wisata di wilayah adatnya. Sampai hari ini,  baru ada 1 (satu) kelompok temenggung yaitu Temenggung Grib di wilayah Kedondong Muda yang sudah mampu mengelola pengunjung wisata budaya tradisional secara mandiri.  Pengelola wisata budaya yang seluruhnya dari komunitas Orang Rimba tersebut, tergabung dalam kelompok wisata budaya Hutan Lestari Indah (Rimbo Bungaron Rayo).

Untuk bisa menjadikan Orang Rimba sebagai subyek pengelolaan maka perlu peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program pendidikan dan pendampingan. Saat ini, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas terus melanjutkan program sekolah rimba yang  dirintis pertama oleh Butet Manurung.  Hingga tahun 2019, telah operasional 5 (lima) Sekolah Rimba (non formal) untuk menjangkau kelompok Orang Rimba di dalam hutan dan 2 (dua) paket Sekolah Berjalan (Mobile School) untuk mengikuti pergerakan Orang Rimba khususnya pada saat mereka sedang hidup "melangun" yaitu hidup berpindah ke tempat lain di dalam kawasan karena ada musibah yang menimpa anggota kelompoknya di tempat sebelumnya.

Saat ini, terdapat 2.960 jiwa Orang Rimba yang bermukim di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas. Terdiri dari 718 keluarga yang terbagi ke dalam 13 kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang ketua yang diberi gelar Temenggung dengan wilayah kepemimpinan masing-masing, sehingga dari total luas taman nasional 54.760 ha, telah dibagi habis oleh 13 wilayah adat dari 13 kelompok tersebut. Ke depan, Balai Taman Nasional Bukit Duabelas bersama sama dengan 13 kelompok Orang Rimba berkomitmen untuk terus mengelola hutan ini dengan baik untuk kesejahteraan Orang Rimba.

(Oleh : Haidir, Kepala Balai TNBD)

                                                                                                                                      ….oooooooo….