Biodiversitas

You are here

Pameran Indonesian and Biodiversity (IBEX EXPO) 2018 Batam

Kegiatan Pameran Indonesia Biodiversity & Conservation Expo 2018 (IBEX EXPO) ini dilakukan dalam rangka memperkenalkan keanekaragaman hayati Indonesia kepada masyarakat, generasi muda, dan dunia Internasional. Pameran ini dibuka oleh Asisten Dua Bidang Perekonomian Kepulauan Riau Bapak Syarul Bahrum. Sementara Pameran Indonesia Biodiversity & Conservation Expo 2018 (IBEX EXPO) dilaksanakan di pusat kota Batam tepatnya di Mega Mall Batam Centre.

Reintroduksi Anggrek : Tradisi Konservasi di Taman Nasional Bukit Duabelas

Reintroduksi anggrek ke kawasan merupakan kegiatan rutin tahunan di Balai Taman Nasional Bukit Duabelas. Kegiatan ini telah dimulai sejak tahun 2010 silam dan terus berlanjut sampai saat ini. Anggrek atau menurut bahasa lokal Jambi disebut sakek merupakan salah satu flora yang pengembangannya telah dilakukan secara intensif oleh Balai Taman Nasional Bukit Duabelas.

Tunjuk Langit (Helminthostachys zeylanica)

Sesuai dengan visi dan misi Taman Nasional Bukit Duabelas, diantaranya “mengembangkan konservasi genetik dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara berkelanjutan”, maka berbagai jenis flora di kembangkan secara in-situ di dalam kawasan dengan pembuatan demplot diantaranya demplot tanaman obat.

KUPU-KUPU DI TAMAN NASIONALBUKIT DUABELAS

Kupu-kupu termasuk serangga yang sangat luas penyebarannya sehingga sangat mudah kita temukan di sekitar lingkungan kita. Termasuk di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, kupu-kupu dengan berbagai jenis dan warna cukup  mudah kita temukan di dalam kawasan. Beberapa jenis kupu-kupu yang terdapat di kawasan TNBD adalah :

JENIS-JENIS HASIL HUTAN BUKAN KAYU DI KAWASAN TAMAN NASONAL BUKIT DUABELAS YANG DIMANFAATKAN OLEH ORANG RIMBA

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan salah satu sumber penghidupan Orang Rimba yang ada di kawasan TNBD dan sekitarnya. HHBK ini dimanfaatkan oleh Orang Rimba sebagai sumber pendapatan, sumber makanan dan sumber bibit  untuk tanaman. Beberapa jenis hasil hutan bukan kayu yang terdapat di kawasan TNBD dan dimanfaatkan oleh Orang Rimba. Berdasarkan nilai ekonominya, maka  hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh Orang Rimba ini dapat dibedakan menjadi hasil hutan bukan kayu non komersil dan komersil.

A. Non komersil

JENIS BUAH-BUAHAN HUTAN DI TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS YANG BIASA DIKONSUMSI OLEH ORANG RIMBA

Rambutan hutan

Taman Nasional Bukit Duabelas memiliki berbagai jenis tumbuhan, termasuk tumbuhan penghasil buah. Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan kawasan yang dihuni oleh komunitas Suku Anak Dalam/Orang Rimba. Orang Rimba memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan yang berada di hutan sebagai bahan pangan dan kebutuhan hidup lainnya. Salah satu pemanfaatan tumbuhan oleh Orang Rimba adalah buah-buahan. Berikut ini adalah beberapa jenis buah-buahan yang biasa dikonsumsi oleh Orang Rimba :

 

TUMBUHAN OBAT ALAM DI KAWASAN TNBD

akar sempalas

Taman Nasional Bukit Duabelas ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 258/Kpts-II/2000 tanggal 23 Agustus 2000, dengan luas kawasan seluruhnya ± 60.500 Ha. Menyusul kemudian Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.4196/Menhut-II/2014 tanggal 10 Juni 2014 tentang Penetapan Kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Duabelas  seluas 54.780,41 hektar yang terletak di Kabupaten Batang Hari seluas 35.292,88 hektar, Kabupaten Tebo seluas 19.882,25  hektar dan Kabupaten Sarolangun seluas 8.605,26 hektar.

Anggrek Alam TNBD

Salah satu flora yang masih mudah dijumpai di kawasan TNBD adalah anggrek alam. Terdapat 2 (dua) jenis anggrek di kawasan TNBD yaitu anggrek epifit yang biasa ditemukan di pohon-pohon dan anggrek tanah.   Berdasarkan survey yang dilakukan LIPI pada tahun 1999, tidak kurang dari 41 jenis anggrek alam telah ditemukan di kawasan ini. Sayangnya, dokumentasi dari hasil survey ini hanya berupa informasi tertulis (nama lokal dan nama ilmiah) tanpa ada gambar/foto sehingga perlu dilakukan survey ulang untuk  memastikan keberadaan anggrek-anggrek tersebut.

REINFORMED FROM KSDAE : Cara Baru Membangun “Learning Organization”

Jakarta, 26 September 2017. Direktorat Jenderal KSDAE menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Bidang KSDAE Tahun 2017 di Royal Kuningan Hotel, tanggal 26 – 28 September 2017.
Rakornis Bidang KSDAE merupakan salah satu “kendaraan” untuk membangun budaya komunikasi asertif dan inklusif untuk kepentingan menyusun Visi Bersama multipihak.

Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc. membuka acara Rakornis sekaligus memberikan arahan mengenai Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi dengan Membangun “Learning Organization”. 

Tags: 

Pages